Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Marendra Agung J.W
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Marendra Agung J.W adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Era Revolusi Teknologi, Akankah Peran Guru Tergantikan?

Kompas.com, 9 Desember 2022, 20:49 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Hanya karena perangkat ajar serta persiapan dan perencanaan pembelajaran tidak dapat kita gunakan, bukan berarti kita berhenti membagikan ilmu.

Sikap dalam merespon masalah secara spontan, efektif, serta tepat sasaran pasti akan kita lakukan.

Saya cukup yakin kalau sebagian besar guru pernah mengalami hal ironi semacam itu dengan bentuk yang beragam. Dan jangan-jangan, ketika kita dapat mengatasi situasi semacam inilah, yang kemudian disebut sebagai daya kreativitas. Jika itu bukan kreatif, lantas apakah guru kreatif harus terikat dengan teknologi pembelajaran terkini?

Teknologi sebagai Alat Bukan sebagai Pusat

Para guru secara umum boleh jadi berposisi sebagai murid di hadapan gawai dan juga di tengah gelagat media sosial.

Kita tentu sudah tak canggung lagi melihat rekan kita yang lebih senior, kini mulai berpose dan posting foto atau materi pembelajaran di TikTok, Instagram, atau media sosial lainnya.

Kita pun telah melihat mereka sempat tertatih-tatih berkenalan dengan Zoom, Kahoot, Quizizz dan lain sebagainya. Kemudian kita sebagai guru yang masih muda turut serta mebantu mereka.

Kita boleh saja merasa paling mengerti dengan "bahasa" zaman ini, tapi saya kira kita harus tetap hati-hati untuk menyebut diri kita "kreatif". Sebab, jangan-jangan kita baru sekedar adaptif sebagai pengguna mahir aplikasi-aplikasi mutakhir.

Saya khawatir, apa yang sudah kita lakukan di kelas, dengan segala percobaan-percobaan piranti baru justru mempesempit diri kita sebagai guru.

Apakah segala hal yang kita terapkan dengan dalih "kreatif" malah menjauhkan kita dari efektivitas pembelajaran itu sendiri?

Pertanyaan tersebut menyambung pertanyaan di awal tulisan ini. Bahwa efek teknologi yang semulanya solusi lantas kemudian dapat menjelma menjadi masalah.

Pertanyaan tersebut saya rasa sejalan dengan gagasan Daoed Joesoef bahwa masyarakat teknologi berisiko membunuh keberadaannya sendiri. Pertumbuhan teknologi menuntut adanya daya kreatif hingga kebebasan untuk bergagasan. Di lain sisi, sifat dasar organisasi dari pertumbuhan teknologi ini ialah keteraturan dan disiplin yang ketat.

Bukankah keadaan ini akan menjadi bertentangan? Ketika kita harus kreatif di tengah ruang, yang juga mengharuskan kita disiplin dengan regulasi formal tertentu?

Oleh sebab itu, kita harus merumuskan secara mandiri, bagaimana posisi teknologi yang proporsional, terlebih dalam dunia pendidikan formal dengan segala aspirasi ilmunya. Teknologi jangan sampai menjadi kontraproduktif, karena teknologi di kelas pada dasarnnya hanyalah alat, bukan pusat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau