
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Kesibukan di ruang kerja adalah pemandangan sehari-hari yang biasa kita perhatikan di kantor. Ada yang mondar-mandir, ada juga yang fokus dengan layar monitor komputernya.
Apalagi dengan kebisingan yang kadang tidak bisa pula kita kontrol, itu seperti produktivitas semu alias fake productivity kalau kita tidak hati-hati terjebak di dalamnya.
Sebutan "sok sibuk" memang cukup biasa jadi frasa yang kita pahami. Karyawan dengan label tersebut terlihat karena aktivitas mereka yang ternyata tidak memberi kontribusi untuk kantor.
Ilusi kesibukan menciptakan gerak-gerik seorang karyawan di kantor karena aktivitas yang dilakukan tidak menghasilkan sesuatu yang sia-sia.
Gelagat seperti aktif bergerak tetapi tidak ada kemajuan dalam pekerjaan itu merupakan tanda dari ilusi sibuk atau produktif.
Akibatnya karyawan yang benar-benar tidak peduli kalau aktivitasnya sebenarnya tidak diperlukan karena tidak menghasilkan apa-apa.
Pun, bagi karyawan yang biasa dialami mereka yang sok sibuk ini adalah gampang kehilangan fokus ketika sedang bekerja. Ada saja hal-hal yang remeh seperti membuka media sosial sampai lupa waktu.
Produktivitas semu atau fake productivity adalah jebakan yang umum di tempat kerja. Terlihat sibuk tidak selalu berarti produktif, dan sering kali aktivitas yang kita anggap penting justru tidak memberikan kontribusi nyata bagi tujuan perusahaan.
Jika Anda merasa terjebak dalam rutinitas yang tampak sibuk namun tidak efektif, berhati-hatilah, karena anda sudah masuk dalam radar produktivitas semu.
Jadi, adakah cara bagi seorang karyawan agar terhindar dari kondisi fake productivity?
1. Biasakan buat Prioritas Beraktivitas di Kantor
Buatlah daftar tugas dan prioritaskan mana yang penting. Ketahuilah mana pekerjaan yang bisa menyita banyak waktu karena bertujuan langsung dengan tugas-tugas perusahaan.
2. Batasi Gangguan
Kalau memang sering teralihkan karena media sosial, coba mulai dengan mematikan notifikasi di gadget.
Hindari terjebak dalam penggunaan teknologi hanya untuk terlihat sibuk, tetapi gunakanlah untuk meningkatkan efisiensi kerja.
3. Terapkan Prinsip Pareto (80/20)
Prinsip Pareto atau aturan 80/20, menyatakan bahwa 80% hasil berasal dari 20% usaha. Identifikasi aktivitas yang memberikan dampak terbesar dan alokasikan lebih banyak waktu dan energi untuk tugas-tugas tersebut.
4. Belajar Mengatakan Tidak
Terjebak dalam kondisi produktivitas semu itu mesti kita beranikan dengan belajar untuk engatakan tidak pada tugas-tugas yang tidak relevan.
5. Kurangi Multitasking
Bisa melakukan banyak hal di tempat kerja, pada satu sisi, akan membuatmu merasa sibuk, tetapi sering kali mengurangi kualitas dan efisiensi kerja.
6. Fokus pada Hasil, Bukan Aktivitas
Ubah fokus kerja dari sekadar melakukan aktivitas menjadi produktif dengan hasil nyata.
7. Cari Umpan Balik
Mintalah umpan balik dari atasan atau rekan kerja mengenai kinerja. Karena hanya dari mereka kita dapat memberikan perspektif yang berharga tentang apakah aktivitas yang dilakukan.
8. Evaluasi Tugas Secara Kritis
Lakukan evaluasi kritis terhadap tugas-tugas harian yang dikerjakan. Ambil waktu untuk beristirahat sejenak dan refleksikan pekerjaan yang telah dilakukan.
***
Sibuknya seorang karyawan pada akhirnya tidak berbanding lurus dengan produktivitas yang dihasilkan.
Sadari diri bila sudah terjebak dalam produktivitas semu!
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Terjebak dalam Produktivitas Semu, Saatnya Melawan!"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang