
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SMA Negeri di Sulawesi Selatan selalu menjadi agenda tahunan yang menyita perhatian masyarakat.
Di antara berbagai jalur yang tersedia, Jalur Domisili Zona 1 kerap menjadi jalur yang paling banyak diminati karena memberikan kesempatan bagi peserta didik yang tinggal di sekitar sekolah untuk memperoleh akses pendidikan yang lebih dekat.
Namun, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan SPMB Jalur Domisili Zona 1 tahun ini juga diwarnai berbagai dinamika. Mulai dari kesalahan teknis saat pendaftaran, proses verifikasi administrasi, langkah koreksi yang dilakukan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, hingga suasana masa sanggah yang di beberapa tempat berlangsung cukup emosional.
Ketidaksesuaian Data dan Tantangan Titik Koordinat
Salah satu persoalan yang cukup sering ditemui adalah ketidaksesuaian antara data yang diinput ke sistem dengan dokumen kependudukan resmi.
Pada jalur domisili, alamat yang dimasukkan dalam sistem harus sesuai dengan data pada Kartu Keluarga (KK). Dalam praktiknya, masih ditemukan orang tua maupun calon murid yang menuliskan alamat berdasarkan nama jalan yang lebih dikenal sehari-hari, bukan alamat administratif sebagaimana tercantum dalam KK.
Perbedaan pada penulisan RT, RW, nama lingkungan, hingga nomor rumah dapat menyebabkan data dianggap tidak sinkron dan berujung pada tidak lolosnya proses verifikasi.
Selain itu, penggunaan sistem berbasis titik koordinat juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tidak sedikit calon murid yang mengalami kesalahan dalam menentukan lokasi tempat tinggal pada peta digital.
Sebagian kesalahan terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap penggunaan aplikasi, keterbatasan jaringan internet, atau faktor teknis lainnya.
Dalam beberapa kasus, ketidaksesuaian antara titik koordinat dan alamat pada dokumen resmi menyebabkan berkas harus ditinjau ulang.
Padahal, ada calon murid yang secara faktual tinggal dekat dengan sekolah, tetapi terkendala akibat kesalahan saat memasukkan data.
Beban Verifikasi dan Potensi Human Error
Dinamika SPMB tidak hanya berasal dari sisi pendaftar. Tingginya jumlah berkas yang harus diperiksa dalam waktu relatif singkat membuat operator dan tim verifikasi di sekolah menghadapi beban kerja yang cukup besar.
Dalam sejumlah kasus, ditemukan adanya kekeliruan administratif akibat faktor human error. Ada berkas yang seharusnya belum memenuhi syarat tetapi memperoleh status lolos verifikasi, sementara di sisi lain terdapat calon murid dengan dokumen yang sebenarnya lengkap justru memperoleh status tidak lulus.
Kesalahan administratif seperti ini tentu dapat menimbulkan kebingungan dan kekecewaan bagi para calon murid dan orang tua.