Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sungkowo
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Sungkowo adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Sudah Sejauh Mana Pendidikan Kita Saat Ini?

Kompas.com, 29 Mei 2025, 20:45 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Kemendikdasmen segera merespons bahwa Deep Learning bukanlah kurikulum, tetapi pendekatan pembelajaran.

Sekalipun seperti ini, tetap saja istilah Deep Learning menjadi bahan perbincangan di antara guru, juga masyarakat awam yang acuh terhadap dunia pendidikan. Ujung perbincangan selalu mengarah ke pemikiran bahwa kurikulum yang sudah diberlakukan segera akan diganti.

Hingga kini, sekolah masih menerapkan Kurikulum Merdeka yang sudah ditetapkan menjadi Kurikulum Nasional. Deep Learning yang dimaksudkan oleh Kemendikdasmen belum terasa di sekolah.

Meskipun sejatinya, esensi Deep Learning sudah dilakukan oleh guru di dalam proses pembelajaran bersama siswa selama ini. Misalnya, guru telah membersamai siswa dalam memahami materi yang kontekstual, berpikir secara kritis, dan belajar secara menyenangkan.

Sehingga, ketika Deep Learning yang dimaksudkan oleh Kemendikdasmen diimplementasikan, tak memulainya dari nol. Modal yang sudah ada, kualitasnya tinggal ditingkatkan saja.

Dengan begitu, yang selama ini guru (telah) melakukan tetap ada manfaatnya. Sekaligus, ini sebagai bentuk menghargai keberadaannya.

Dilakukan dengan pengembangan, tak penghilangan, yang dibutuhkan dalam menumbuhkembangkan siswa inilah yang disebut menghargai yang sudah ada. Yang sudah ada tak terkurangi, tetapi justru ditambah untuk melengkapinya.

Memang tak selalu mesti bisa seperti ini. Contohnya, rencana diadakan tes kompetensi akademik (TKA) yang sebelumnya tak ada. Sebab, beberapa tahun terakhir ini, tepatnya sejak 2021 ujian nasional (UN) dihapus.

UN mengarah ke menguji siswa terkait dengan mata pelajaran (mapel) yang diajarkan. Jadi, lebih mengukur perihal kognisi siswa.

Asesmen nasional (AN) yang meliputi asesmen kemampuan minimal (AKM), survei karakter, dan survei lingkungan belajar sebagai pengganti UN, tak melulu mengukur kognisi siswa. Tetapi, juga hendak melihat karakter siswa dan kondisi lingkungan belajar.

Sekalipun UN telah dihapus, siswa tetap menghadapi ujian, yaitu ujian sekolah (US). Hanya, US pada tahun 2025 sangat mungkin US yang terakhir.

Sebab, selanjutnya diberlakukan TKA, khususnya di jenjang sekolah menengah atas (SMA) berlaku sejak 2025. Sementara itu, untuk jenjang di bawahnya mulai diberlakukan pada tahun berikutnya.

Proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) yang selama ini berjalan, dengan memuat enam dimensi, kini diubah memuat tujuh dimensi. Adanya perubahan ini sempat terjadi perbincangan di masyarakat yaitu bahwa P5 diganti dengan P7.

Tetapi, Kemendikdasmen sudah memastikan bahwa tak ada upaya mengganti P5 menjadi P7. Yang diganti, tepatnya diubah, adalah profil lulusan yang semula berdimensi 6, ke depan profil lulusan berdimensi 8.

Profil lulusan berdimensi delapan, terdiri atas Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), Kewargaan, Kreativitas, Kemandirian, Komunikasi, Kesehatan, Kolaborasi, dan Penalaran Kritis

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Kata Netizen
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Kata Netizen
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Kata Netizen
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Kata Netizen
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
Kata Netizen
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Kata Netizen
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Kata Netizen
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Kata Netizen
Kok 'Gaji Sesuai UMR' Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kok "Gaji Sesuai UMR" Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kata Netizen
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Kata Netizen
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Kata Netizen
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Kata Netizen
'Osob Kiwalan', Bahasa Identitas Orang Malang
"Osob Kiwalan", Bahasa Identitas Orang Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau