Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagas Kurniawan
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Bagas Kurniawan adalah seorang yang berprofesi sebagai Auditor. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Mencari Kandidat Pengganti Nasi, Sorgum sebagai Solusi?

Kompas.com, 7 Juni 2025, 12:13 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Hal ini membuat budidaya sorgum jauh lebih berkelanjutan secara ekologis. Selain itu, dengan masa panen yang relatif pendek (sekitar 100–120 hari), sorgum juga cocok sebagai tanaman rotasi atau tumpangsari.

Di sisi ekonomi, sorgum membuka peluang besar untuk pengembangan usaha tani rakyat. Biaya produksi yang lebih rendah dan daya jual yang kompetitif dapat meningkatkan pendapatan petani, terutama di daerah dengan kondisi agroklimat marginal. 

Pengembangan sentra produksi sorgum juga dapat menciptakan lapangan kerja baru dalam rantai nilai pertanian dan industri pengolahan.

Inovasi Produk Olahan Berbasis Sorgum

Perkembangan teknologi pangan mendorong munculnya berbagai inovasi dalam pengolahan sorgum. Saat ini, produk-produk berbasis sorgum telah merambah pasar lokal dan internasional, seperti:

1. Nasi sorgum siap saji: Dengan tekstur mirip nasi, produk ini menjadi alternatif langsung bagi konsumen beras.

2. Tepung sorgum terfortifikasi: Digunakan dalam pembuatan mie instan, roti lapis, pasta, dan donat tanpa gluten.

3. Sereal sarapan: Campuran sorgum dengan kacang-kacangan dan buah kering.

4. Snack sehat: Seperti keripik sorgum, cookies bebas gluten, dan pop sorgum.

5. Produk fermentasi: Seperti minuman probiotik, yoghurt nabati, dan minuman energi alami berbasis sorgum.

Menurut penelitian Nirmala et al. (2021), substitusi tepung terigu dengan tepung sorgum hingga 40% dalam adonan roti tidak hanya meningkatkan kandungan serat, tetapi juga menurunkan indeks glikemik produk akhir secara signifikan.

Hal ini memperluas peluang sorgum untuk dikembangkan dalam makanan fungsional dan pangan kesehatan.

Pengembangan sorgum sebagai bahan pangan nasional membutuhkan dukungan kebijakan yang kuat.

Pemerintah Indonesia telah mulai melirik sorgum sebagai bagian dari program diversifikasi pangan, namun implementasinya masih terbatas. Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain:

  • Insentif dan subsidi bagi petani sorgum untuk mendorong perluasan lahan tanam.
  • Riset dan pengembangan varietas unggul yang sesuai dengan iklim lokal dan tahan hama.
  • Sosialisasi dan kampanye konsumsi sorgum kepada masyarakat luas melalui program gizi sekolah, rumah sakit, dan BUMN pangan.
  • Penguatan industri pengolahan pangan lokal agar mampu menyerap hasil produksi sorgum secara berkelanjutan.

Selain itu, kerja sama dengan perguruan tinggi, LSM, dan sektor swasta dapat mempercepat adopsi sorgum secara nasional.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau