Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ika Maya Susanti
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Ika Maya Susanti adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kalau Sudah "Uang Kita", Apakah Suami akan Malas Bekerja?

Kompas.com, 17 Juli 2025, 14:58 WIB

Tidak semua, tetapi ada: bahwa pria yang berpenghasilan rendah daripada istri akan bekerja secara maksimal.

Hal semacam ini pernah saya temui beberapa kali melihat adanya kenyataan suami yang malah jadi malas bekerja setelah tahu penghasilan istrinya bisa menutupi banyak pengeluaran rumah tangga.

Seperti yang terjadi para salah satu teman saya. Sejak awal berumah tangga, mereka menggunakan istilah uang kita. Uang suami ya uangnya istri, uang istri yang uangnya suami. 

Beberapa tahun awal pernikahan, mereka bisa saling mengisi tempayan rumah tangganya. Semua pengeluaran dalam kondisi aman tak kekurangan.

Mereka bisa rutin mengumpulkan uang dan mewujudkannya dalam tabungan emas. Bahkan suatu ketika, mereka bisa membangun rumah impian.

Namun, semua berubah sejak suaminya memutuskan berhenti dari pekerjaan tetap. Ia yang awalnya sebelum bekerja di luar rumah sebetulnya sudah melakoni pekerjaan penulis lepas hingga berpenghasilan lumayan, ternyata pengalamannya tersebut tak menjamin ia bisa kembali punya semangat bekerja mandiri di rumah.

Malah saat tahu istrinya makin hari punya penghasilan makin besar, ia justru menarik diri ke zona nyaman untuk bermalas-malasan.

Saudara-saudaranya sudah mengingatkan bahwa walau bagaimanapun, ia adalah kepala keluarga yang harus tetap lebih bertanggung jawab untuk urusan ekonomi keluarga.

Parahnya makin hari, suaminya ini justru berani berutang. Jika ditagih, ia lalu melimpahkan tanggung jawab itu pada istrinya.

Awalnya karena merasa ini bagian dari masalah keluarga yang harus diselesaikan, istrinya ini memilih membayarkan utang-utang suaminya. Tapi makin hari, kelakukan suaminya makin membuat teman saya makan ati.

Ada lagi cerita lain tentang istri yang berpenghasilan lebih besar dari suaminya. Meski tak separah cerita yang pertama, cerita kawan saya yang lain ini punya versi berbeda. 

Masih di konsep uang kita, uang bersama. Setiap ada pengeluaran rumah tangga, kawan saya lah berinisiatif untuk mengeluarkan uang.

Tak peduli suaminya memberikan gajinya atau tidak. Hingga akhirnya pengeluaran yang jumlahnya memang kecil, namun jika terus menerus, akhirnya membuat kawan saya jadi kelabakan juga. 

Sampai di suatu ketika ia sadar, suaminya jadi lebih tak peduli dengan banyak hal akan kebutuhan anak-anak dan istrinya.

Ia melihat suaminya jadi lebih santai dan mudah menyepelekan laporan pengeluaran ini itu yang harus dikeluarkan dalam waktu dekat. Sampai-sampai, istrinya yang harus berutang untuk menutupi pengeluaran, dan juga melunasi utang itu sendirian.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau