
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Jejak Trem, Delman, Loak, dan "Nyombor"
Comboran bermula sejak sekitar tahun 1900, masa pemerintahan Hindia Belanda. Kawasan ini adalah jalur trem kota Malang hingga tahun 1950-an.
Kawasan Comboran ini juga berfungsi sebagai pasar transit hasil pertanian, tempat di mana para petani menjual hasil panenannya sembari menunggu jalur trem ke tujuan berikutnya.
Area penjualan atau pasar ini berada di seputar Jalan Prof. Moh. Yamin, Jalan Sartono, S.H., Jalan Irian Jaya, Jalan Halmahera (sepanjang rel kereta api Pertamina) hingga Jalan Besi.
Masa Kolonial Belanda, kawasan Jalan Prof. Moh. Yamin dan Jalan Sartono, S.H. menjadi satu dengan nama Van Oorschot Weg.
Lokasinya strategis, dekat jalur trem dan kereta jarak pendek yang menghubungkan wilayah-wilayah seperti Pakis, Tumpang, Singosari, hingga Alun-Alun dan Kayutangan.
Di kawasan ini pula, puluhan dokar biasa "ngetem" sambil memberi minum kuda mereka. Dari aktivitas inilah muncul istilah "nyombor", bahasa Jawa untuk memberi minum atau "bedhol pathok" kuda-kuda delman, yang kemudian melahirkan nama Comboran.
Seiring perjalanan waktu, tempat ini menjadi terminal angkutan umum, bemo, demo "delman motor" dengan titik sentral yang mendukung keberadaan Pasar Besar yang lokasinya tak jauh, tepatnya di sebelah utara kawasan ini.
Di masa perang tahun 1942, saat orang-orang Belanda ditangkap dan ditahan Jepang. Barang-barang yang mereka tinggalkan berupa alat rumah tangga, baju-baju, dan segala isi rumah dijual oleh kaum pribumi yang menjadi pembantu mereka di kawasan Comboran ini.
Sejak itu, Comboran dikenal sebagai tempat jual beli pakaian bekas orang Belanda.
Tahun 1950an, jenis barang bekas yang dijual makin beragam. Pada dekade 1960-an, kawasan selatan Comboran berkembang menjadi pusat industri pengelasan dan suku cadang sepeda motor.
Dan pada dekade 1980-an, Comboran mencapai puncak kejayaannya sebagai pusat barang antik terbesar di Jawa Timur. Banyak orang menyebutnya "Pasar Maling", bukan karena barang curian, tapi karena harganya yang 'kemalingan': sangat murah, tapi kualitasnya bagus.
Pasar yang Tak Pernah Usang
Waktu boleh bergulir, wajah kota boleh berubah, tetapi Comboran tetap setia pada karakternya.
Jadi, di sinilah tempat bagi mereka yang mencari barang langka, potongan masa lalu, dan semangat hidup rakyat kecil yang tidak menyerah meski harus berjualan di bawah seng atau tenda sederhana.