Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yayuk CJ
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yayuk CJ adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kenangan dari Pasar Comboran Tak Pernah Usang

Kompas.com, 11 Agustus 2025, 16:45 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Jejak Trem, Delman, Loak, dan "Nyombor"

Comboran bermula sejak sekitar tahun 1900, masa pemerintahan Hindia Belanda. Kawasan ini adalah jalur trem kota Malang hingga tahun 1950-an. 

Kawasan Comboran ini juga berfungsi sebagai pasar transit hasil pertanian, tempat di mana para petani menjual hasil panenannya sembari menunggu jalur trem ke tujuan berikutnya.

Area penjualan atau pasar ini berada di seputar Jalan Prof. Moh. Yamin, Jalan Sartono, S.H., Jalan Irian Jaya, Jalan Halmahera (sepanjang rel kereta api Pertamina) hingga Jalan Besi.

Masa Kolonial Belanda, kawasan Jalan Prof. Moh. Yamin dan Jalan Sartono, S.H. menjadi satu dengan nama Van Oorschot Weg.

Lokasinya strategis, dekat jalur trem dan kereta jarak pendek yang menghubungkan wilayah-wilayah seperti Pakis, Tumpang, Singosari, hingga Alun-Alun dan Kayutangan.

Di kawasan ini pula, puluhan dokar biasa "ngetem" sambil memberi minum kuda mereka. Dari aktivitas inilah muncul istilah "nyombor", bahasa Jawa untuk memberi minum atau "bedhol pathok" kuda-kuda delman, yang kemudian melahirkan nama Comboran.

Seiring perjalanan waktu, tempat ini menjadi terminal angkutan umum, bemo, demo "delman motor" dengan titik sentral yang mendukung keberadaan Pasar Besar yang lokasinya tak jauh, tepatnya di sebelah utara kawasan ini.

Di masa perang tahun 1942, saat orang-orang Belanda ditangkap dan ditahan Jepang. Barang-barang yang mereka tinggalkan berupa alat rumah tangga, baju-baju, dan segala isi rumah dijual oleh kaum pribumi yang menjadi pembantu mereka di kawasan Comboran ini.

Sejak itu, Comboran dikenal sebagai tempat jual beli pakaian bekas orang Belanda.

Tahun 1950an, jenis barang bekas yang dijual makin beragam. Pada dekade 1960-an, kawasan selatan Comboran berkembang menjadi pusat industri pengelasan dan suku cadang sepeda motor. 

Dan pada dekade 1980-an, Comboran mencapai puncak kejayaannya sebagai pusat barang antik terbesar di Jawa Timur. Banyak orang menyebutnya "Pasar Maling", bukan karena barang curian, tapi karena harganya yang 'kemalingan': sangat murah, tapi kualitasnya bagus. 

Pasar yang Tak Pernah Usang

Waktu boleh bergulir, wajah kota boleh berubah, tetapi Comboran tetap setia pada karakternya.

Jadi, di sinilah tempat bagi mereka yang mencari barang langka, potongan masa lalu, dan semangat hidup rakyat kecil yang tidak menyerah meski harus berjualan di bawah seng atau tenda sederhana.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau