
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Saat ini mungkin banyak yang tak lagi menoleh ke Comboran yang beberapa kalj mengalami revitalisasi agar tidak tampak kumuh. Mall dan marketplace digital telah menggantikan peran pasar loak sebagai tempat berburu benda-benda murah.
Tetapi bagi saya, Comboran tetap istimewa. Ia adalah arsip hidup, galeri kenangan, museum tanpa label.
Saya merasakan bahwa di balik debu dan besi tua, ia menyimpan sesuatu yang lebih berharga: ada jejak kasih Bapak, kebersahajaan masa kecil, dan pelajaran tentang keindahan dalam hal-hal sederhana yang nyaris terlupakan.
Comboran mengajarkan saya bahwa setiap barang, bahkan yang terlihat tak berguna, punya cerita dan potensi untuk hidup kembali: seperti kenangan, ia mungkin usang, tapi tak pernah kehilangan makna. Salam Lestari!
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pasar Comboran dan Kenangan yang Tak Pernah Usang"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang