
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Sebaliknya, film-film yang kurang beruntung di tangga box office kerap memilih diam dan tidak membuka data ke publik.
Padahal, data kegagalan sama berharganya dengan data keberhasilan. Dari sanalah industri bisa belajar: memahami strategi distribusi yang kurang tepat, tema yang kurang relevan, atau pendekatan promosi yang tidak efektif.
Tanpa transparansi menyeluruh, sulit bagi industri film Indonesia membangun basis pengetahuan yang kokoh untuk berkembang.
Menutup Luka dengan “Plester Angka”
Keberhasilan Agak Laen: Menyala Pantiku! dan Jumbo seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kualitas, bukan sekadar memicu perlombaan pamer angka. Tidak mengapa jika sebuah film tidak laku.
Jauh lebih sehat daripada “dipaksakan” laku lewat praktik pemborongan tiket, hanya untuk kemudian mengalami penurunan drastis dan turun layar dalam waktu singkat—fenomena yang bukan hal asing di bioskop kita.
Menutup rendahnya minat publik dengan “plester angka” yang diduga hasil rekayasa bukanlah solusi jangka panjang. Ini bukan lagi sekadar persoalan administratif tentang tiket terjual, melainkan soal mentalitas dalam menghargai ekosistem perfilman.
Jumlah penonton memang penting sebagai indikator bisnis. Namun, yang jauh lebih krusial adalah kualitas organik di balik angka tersebut.
Satu penonton yang datang karena rasa ingin tahu dan keinginan menikmati karya memiliki nilai yang lebih besar daripada deretan tiket yang berujung pada kursi kosong.
Penonton organik adalah fondasi masa depan industri. Mereka membeli tiket dengan kesadaran dan akan kembali ke bioskop karena kepercayaan. Sudah saatnya angka penonton dikembalikan ke fungsi aslinya: cermin jujur dari apresiasi publik.
Dengan memandang penonton sebagai manusia yang memiliki daya pilih—bukan sekadar angka untuk memoles citra—industri film Indonesia berpeluang tumbuh lebih sehat secara fundamental.
Kejujuran data, pada akhirnya, adalah investasi paling berharga bagi keberlanjutan sinema kita.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menyoal Fenomena "Penonton Gaib" di Balik Jutaan Penonton Film Kita"
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang