
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Dari situ, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan: ke mana perginya para penonton tersebut? Tiket tercatat terjual, tetapi kehadiran fisiknya nyaris tak terlihat.
Fenomena inilah yang kerap disebut sebagai “penonton gaib”—hadir dalam data, absen di ruang pemutaran.
Berbagai spekulasi pun bermunculan, salah satunya dugaan praktik pembelian tiket dalam jumlah besar untuk kemudian dibagikan secara gratis.
Meski sulit dibuktikan secara terbuka, pemandangan studio yang sepi di tengah status “sold out” memperkuat kecurigaan adanya strategi pemasaran instan untuk membangun kesan laris.
Sekilas, praktik semacam ini mungkin terlihat lumrah sebagai bagian dari promosi. Bisa jadi pula, jumlah tiket yang diborong tidak mendominasi total perolehan penonton.
Namun, jika benar terjadi, ada persoalan mendasar yang perlu dicermati: penonton menjadi tidak sepenuhnya organik.
Menonton karena tiket gratis tentu berbeda motivasinya dengan menonton karena dorongan ingin menikmati sebuah karya.
Ketika tidak ada risiko finansial, ketidakhadiran di bioskop pun tidak terasa sebagai kerugian. Hal ini bisa menjelaskan mengapa kursi tetap kosong meski tiket telah “terjual”.
Jika kebiasaan ini dibiarkan, ada kekhawatiran publik justru terdidik untuk melihat bioskop sebagai ruang berburu gratisan, bukan sebagai tempat mengapresiasi cerita dan kerja kreatif di balik layar.
Ketika Penonton Direduksi Menjadi Alat Promosi
Kegelisahan terbesar dari fenomena ini adalah posisi penonton yang seolah direduksi menjadi instrumen pencapaian angka.
Dalam ekosistem yang ideal, penonton adalah barometer kejujuran. Pilihan mereka untuk membeli tiket dan duduk di kursi bioskop merupakan umpan balik paling nyata bagi pembuat film.
Ketika angka penonton diduga dipoles melalui strategi pemasaran berlebihan, industri berisiko kehilangan kompas. Produser mungkin merasa puas dengan capaian jutaan penonton, padahal hanya sebagian yang benar-benar hadir dan menyerap isi filmnya.
Dalam jangka panjang, hal ini bisa menumbuhkan delusi kolektif—merayakan kesuksesan yang tampak gemilang di permukaan, tetapi rapuh di kedalaman.
Fenomena ini juga melahirkan standar ganda. Film-film yang meraih angka tinggi cenderung rajin mempublikasikan jumlah penontonnya secara berkala.