
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Seorang suami yang bekerja sebagai karyawan, misalnya, bisa mendukung istri yang berdagang dari rumah. Suami dapat membantu memasarkan dagangan kepada rekan-rekan di kantor, tentu dengan pengaturan waktu yang bijak.
Hobi pun bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Mereka yang gemar menulis bisa mengikuti lomba atau mencari pekerjaan lepas. Yang memiliki keterampilan bermusik bisa mengisi acara di kafe atau ruang publik.
Bahkan memanfaatkan akhir pekan untuk berjualan sederhana di pusat keramaian pun bisa menjadi pilihan, tanpa perlu merasa gengsi.
Pada akhirnya, upaya menambah penghasilan perlu diiringi dengan sikap hemat. Bukan semata untuk menekan pengeluaran, tetapi sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja keras yang telah dilakukan untuk memperoleh uang tersebut.
Hemat dan Pelit, Dua Hal yang Berbeda
Pertanyaan yang sejak awal mengemuka pun kembali dilontarkan: apa sebenarnya perbedaan antara hemat dan pelit?
Jawaban narasumber cukup tegas. Hemat adalah berbelanja sesuai kebutuhan. Sementara pelit adalah enggan membelanjakan uang, bahkan ketika kebutuhan nyata sudah di depan mata. Kuncinya terletak pada kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Makan dan minum jelas merupakan kebutuhan dasar. Namun pilihan menu, tempat makan, dan suasananya sering kali sudah masuk wilayah keinginan.
Makan gado-gado di warung pinggir jalan atau di restoran mahal, misalnya, sama-sama mengenyangkan, tetapi keputusan memilihnya lebih banyak dipengaruhi selera, gaya hidup, dan lingkungan pergaulan.
Keinginan memang tidak lahir begitu saja. Ia dibentuk oleh lingkungan sosial, lingkar pertemanan, bahkan citra diri yang ingin ditampilkan.
Oleg karena itu, hidup hemat sering kali menuntut keberanian untuk menurunkan ego dan gengsi, serta memilih lingkungan yang sefrekuensi dengan nilai hidup yang dijalani.
Ayah hemat adalah ayah yang mampu menyusun skala prioritas. Ia memahami bahwa kebutuhan besar keluarga—seperti rumah, pendidikan anak, atau kendaraan—memerlukan pengorbanan.
Gaya hidup yang tidak mendukung tujuan tersebut perlu disisihkan, meski terkadang terasa berat.
Kebiasaan kecil pun bisa menjadi bagian dari sikap hemat. Membawa bekal dari rumah, memilih tempat pertemuan yang sederhana, serta disiplin menjaga pos keuangan agar tidak tercampur dengan keinginan pribadi adalah contoh-contohnya.
Ayah hemat bukan berarti hidup serba kekurangan. Ia tetap bisa mengatur variasi menu agar keluarga tidak bosan, serta menyisihkan dana untuk rekreasi bersama. Semua dilakukan secara terencana, bukan impulsif.