Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Agung Han
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Agung Han adalah seorang yang berprofesi sebagai Wiraswasta. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit

Kompas.com, 11 Januari 2026, 17:45 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Seorang suami yang bekerja sebagai karyawan, misalnya, bisa mendukung istri yang berdagang dari rumah. Suami dapat membantu memasarkan dagangan kepada rekan-rekan di kantor, tentu dengan pengaturan waktu yang bijak.

Hobi pun bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Mereka yang gemar menulis bisa mengikuti lomba atau mencari pekerjaan lepas. Yang memiliki keterampilan bermusik bisa mengisi acara di kafe atau ruang publik.

Bahkan memanfaatkan akhir pekan untuk berjualan sederhana di pusat keramaian pun bisa menjadi pilihan, tanpa perlu merasa gengsi.

Pada akhirnya, upaya menambah penghasilan perlu diiringi dengan sikap hemat. Bukan semata untuk menekan pengeluaran, tetapi sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja keras yang telah dilakukan untuk memperoleh uang tersebut.

Hemat dan Pelit, Dua Hal yang Berbeda

Pertanyaan yang sejak awal mengemuka pun kembali dilontarkan: apa sebenarnya perbedaan antara hemat dan pelit?

Jawaban narasumber cukup tegas. Hemat adalah berbelanja sesuai kebutuhan. Sementara pelit adalah enggan membelanjakan uang, bahkan ketika kebutuhan nyata sudah di depan mata. Kuncinya terletak pada kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Makan dan minum jelas merupakan kebutuhan dasar. Namun pilihan menu, tempat makan, dan suasananya sering kali sudah masuk wilayah keinginan.

Makan gado-gado di warung pinggir jalan atau di restoran mahal, misalnya, sama-sama mengenyangkan, tetapi keputusan memilihnya lebih banyak dipengaruhi selera, gaya hidup, dan lingkungan pergaulan.

Keinginan memang tidak lahir begitu saja. Ia dibentuk oleh lingkungan sosial, lingkar pertemanan, bahkan citra diri yang ingin ditampilkan.

Oleg karena itu, hidup hemat sering kali menuntut keberanian untuk menurunkan ego dan gengsi, serta memilih lingkungan yang sefrekuensi dengan nilai hidup yang dijalani.

Ayah hemat adalah ayah yang mampu menyusun skala prioritas. Ia memahami bahwa kebutuhan besar keluarga—seperti rumah, pendidikan anak, atau kendaraan—memerlukan pengorbanan.

Gaya hidup yang tidak mendukung tujuan tersebut perlu disisihkan, meski terkadang terasa berat.

Kebiasaan kecil pun bisa menjadi bagian dari sikap hemat. Membawa bekal dari rumah, memilih tempat pertemuan yang sederhana, serta disiplin menjaga pos keuangan agar tidak tercampur dengan keinginan pribadi adalah contoh-contohnya.

Ayah hemat bukan berarti hidup serba kekurangan. Ia tetap bisa mengatur variasi menu agar keluarga tidak bosan, serta menyisihkan dana untuk rekreasi bersama. Semua dilakukan secara terencana, bukan impulsif.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Kata Netizen
Membaca KUHP Baru dari Sudut Profesi Dokter Hewan
Membaca KUHP Baru dari Sudut Profesi Dokter Hewan
Kata Netizen
Pagi Mie Kondang, Taichan Malamnya: Cerita Kuliner Khas “Anak Jaksel”
Pagi Mie Kondang, Taichan Malamnya: Cerita Kuliner Khas “Anak Jaksel”
Kata Netizen
'Kapitil' Masuk KBBI, Apa Makna dan Bagaimana Penggunaannya?
"Kapitil" Masuk KBBI, Apa Makna dan Bagaimana Penggunaannya?
Kata Netizen
Rajabasa dan Pelajaran Tentang Alam yang Tak Pernah Bisa Diremehkan
Rajabasa dan Pelajaran Tentang Alam yang Tak Pernah Bisa Diremehkan
Kata Netizen
Harga Buku, Subsidi Buku, dan Tantangan Minat Baca
Harga Buku, Subsidi Buku, dan Tantangan Minat Baca
Kata Netizen
Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat
Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat
Kata Netizen
Merawat Pantun, Merawat Cara Kita Berbahasa
Merawat Pantun, Merawat Cara Kita Berbahasa
Kata Netizen
Bukan Sekadar Cerita, Ini Pentingnya Riset dalam Dunia Film
Bukan Sekadar Cerita, Ini Pentingnya Riset dalam Dunia Film
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau