Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jujun Junaedi
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Jujun Junaedi adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga

Kompas.com, 18 Januari 2026, 14:24 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Tahun berikutnya, pohon kuweni kembali berbuah. Namun, ukuran buahnya relatif kecil. Meski begitu, kami tetap menikmatinya bersama. Kami belajar menerima bahwa alam memberi hasil apa adanya, sesuai dengan proses dan kondisi yang terjadi.

Panen Ketiga, Kebahagiaan yang Dibagi Bersama

Hari ini, Kamis (1/1/2026), suasana di samping halaman rumah terasa berbeda. Pohon kuweni itu kembali berbuah untuk ketiga kalinya, dan kali ini hasilnya benar-benar istimewa.

Dari bawah pohon, tampak buah-buah bergelantungan dengan ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Kulitnya menandakan buah sudah tua dan siap dipanen.

Saya tidak ingin menikmati momen ini sendirian. Istri dan anak-anak saya ajak untuk ikut memetik hasil alam yang telah kami tunggu bertahun-tahun.

Bagi saya, melibatkan keluarga dalam proses panen adalah hal penting. Anak-anak perlu tahu bahwa makanan tidak serta-merta hadir di meja makan, melainkan melalui proses panjang yang penuh kesabaran.

Kami berbagi peran. Ada yang memegang galah, ada yang bersiap menangkap buah agar tidak jatuh, dan ada pula yang mengumpulkan hasil panen. Gelak tawa anak-anak terdengar di sela rimbunnya daun, mengiringi setiap buah yang berhasil dipetik.

Hari itu, kami berhasil memanen sekitar delapan buah kuweni. Ukurannya besar-besar, beratnya terasa mantap di tangan. Bagi saya, delapan buah ini adalah simbol dari tujuh tahun penantian yang tidak sia-sia.

Buah-buah tersebut tidak langsung kami santap. Seperti biasa, kami melakukan proses pengeraman selama dua hingga tiga hari agar buah matang sempurna.

Selama menunggu, aroma khas kuweni mulai memenuhi ruangan rumah, menghadirkan rasa tidak sabar sekaligus bahagia.

Ketika akhirnya buah dibelah, rasa manis dan sedikit asam berpadu segar di lidah. Tekstur seratnya khas, menghadirkan kepuasan yang sulit digambarkan. Kuweni hasil kebun sendiri selalu memiliki rasa yang berbeda—lebih jujur, lebih bermakna.

Menanam di Pekarangan, Menanam Kebahagiaan Keluarga

Manfaat memiliki pohon buah di pekarangan ternyata jauh melampaui urusan konsumsi. Kehadiran pohon kuweni mengubah suasana rumah kami. Udara pagi terasa lebih segar, halaman menjadi tempat berteduh yang nyaman, dan pikiran pun lebih tenang.

Anak-anak mendapatkan ruang belajar alami. Mereka menyaksikan langsung proses bunga menjadi buah, mengenal hama, dan memahami bagaimana tanaman merespons cuaca. Ini adalah pelajaran kehidupan yang tidak mereka dapatkan dari buku pelajaran semata.

Bagi keluarga, pohon ini juga menjadi bentuk ketahanan pangan sederhana. Kami tidak selalu harus ke pasar untuk menikmati buah segar. Cukup melangkah ke halaman, camilan sehat sudah tersedia.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau