
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Siapa yang pernah coba menanam buah hingga satu waktu bisa kita petih hasilnya?
Semua kisah ini bermula dari sebuah langkah kecil pada tahun 2018. Saat itu, saya berada di kampung halaman sambil memegang sebutir biji buah kuweni yang baru saja kami santap bersama.
Tanpa rencana besar atau pengetahuan teknis yang rumit, muncul keinginan sederhana untuk menanam biji tersebut di sisi halaman rumah.
Tidak ada teknik khusus, tidak pula proses okulasi atau cangkok. Biji kuweni itu saya benamkan begitu saja ke dalam tanah.
Bagi saya, inilah awal dari sebuah kemauan. Menanam dari biji memang menuntut kesabaran lebih panjang. Banyak orang memilih jalan pintas dengan membeli bibit hasil cangkok agar cepat berbuah.
Namun, saya justru ingin menempuh cara yang paling alami. Ada harapan sederhana yang saya titipkan pada pohon ini: tumbuhlah besar bersama anak-anak saya, menjadi saksi perjalanan waktu keluarga kecil kami.
Menunggu dengan Sabar, Bertumbuh Bersama Waktu
Tahun demi tahun berlalu begitu cepat. Dari tunas kecil yang rapuh, pohon kuweni itu perlahan menunjukkan batang yang mengeras dan daun yang semakin rimbun. Setiap kali pulang kampung atau bersantai di halaman, pohon tersebut selalu mencuri perhatian kami.
Perawatannya pun sangat sederhana. Saya hanya memastikan tanah di sekitarnya tetap bersih dan memberinya air secukupnya. Namun, di balik kesederhanaan itu, ada pelajaran besar tentang ketekunan. Menanam pohon dari biji adalah ujian kesabaran yang sesungguhnya.
Selama kurang lebih tujuh tahun, kami menyaksikan bagaimana pohon ini tumbuh menjulang. Ia bukan lagi sekadar tanaman, melainkan bagian dari cerita hidup keluarga kami.
Daunnya yang hijau pekat menjelma menjadi peneduh alami, melindungi rumah dari terik matahari dan menghadirkan suasana yang lebih sejuk.
Setiap hembusan angin membawa aroma tanah dan dedaunan yang menenangkan. Suasana kampung terasa begitu hidup dan menyejukkan hati.
Buah Pertama, Rasa Syukur yang Tak Tertandingi
Dua tahun lalu, pohon kuweni ini akhirnya memberikan kejutan pertamanya. Tunas-tunas bunga berubah menjadi buah yang nyata.
Meski hasil panen pertama itu belum banyak, rasa bangga dan syukur yang kami rasakan begitu besar. Pohon yang ditanam dari biji itu akhirnya bisa panen.