
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Tak jarang, hasil panen kami bagikan kepada tetangga. Dari situlah terjalin kehangatan dan silaturahmi. Berbagi hasil kebun sendiri menghadirkan kebahagiaan yang berbeda—lebih tulus dan membumi.
Kami menyadari, semua ini berangkat dari dua kata sederhana: mau dan mampu. Mau memulai dari hal kecil, dan mampu bertahan dalam kesabaran.
Pohon kuweni ini mengajarkan bahwa alam tidak pernah berkhianat. Jika dirawat dengan baik, ia akan memberi balasan yang setimpal.
***
Pekarangan rumah yang produktif mungkin terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan proses yang mendewasakan.
Tidak instan, tidak tergesa. Namun, justru dari proses itulah tumbuh kenangan, kebersamaan, dan rasa syukur.
Langkah kecil di tahun 2018 kini telah berbuah manis. Delapan buah kuweni besar menjadi saksi bahwa kesabaran selalu menemukan jalannya.
Kami duduk di teras rumah, memandangi hasil panen dengan hati penuh syukur, menghirup udara segar dari pohon yang kami rawat bersama.
Ternyata, kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Ia bisa tumbuh pelan-pelan di pekarangan rumah, dari sebutir biji yang ditanam dengan cinta.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Asyiknya Mengajak Keluarga Kecil Memetik Hasil Alam di Pekarangan Rumah, Buah Mau dan Mampu!"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang