Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ire Rosana Ullail
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Ire Rosana Ullail adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah

Kompas.com, 19 Januari 2026, 12:04 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Ada hal menarik agar kita bisa kita dapat untuk mengenal sebuah kota atau daerah, yakni dimulai dari meja makan.

Cara terbaik menemukan kuliner khas suatu daerah sering kali bukan dengan mengandalkan mesin pencari, melainkan bertanya langsung kepada penduduk aslinya. Itulah yang saya lakukan ketika berkunjung ke Jepara.

Google memang menawarkan banyak referensi, tetapi rekomendasi seorang kawan terasa lebih personal dan adil. Mereka biasanya mempertimbangkan selera, kebiasaan, bahkan kondisi kita ketika memberi saran—sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh algoritma.

Semasa kuliah, saya memiliki seorang teman dekat yang berasal dari Jepara. Seiring waktu, komunikasi kami memang tak lagi seintens dulu.

Namun, sesampainya di Jepara, saya teringat untuk kembali menghubunginya. Momen seperti inilah yang sering kali menghidupkan kembali relasi lama—sekaligus membuka percakapan baru.

Meski kini tinggal di kota lain mengikuti suaminya, ia lahir dan besar di Jepara. Pengetahuannya tentang kuliner lokal tentu tidak diragukan. Beberapa nama makanan langsung ia sebutkan, dan saya pun tertarik untuk mencicipi sebagian di antaranya.

Horog-horog dan Jejak Sejarah di Piring Makan

Pecel bisa ditemukan hampir di semua daerah, tetapi pecel horog-horog hanya ada di Jepara. Kuliner inilah yang menjadi rekomendasi pertama: sarapan pecel horog-horog di pasar tradisional.

Dalam seporsi pecel ini, horog-horog berfungsi sebagai sumber karbohidrat, mirip dengan lontong atau gendar di daerah lain.

Karena posisinya sebagai pengganti nasi, horog-horog bisa dipadukan dengan berbagai lauk, mulai dari bakso, soto, gulai, hingga sate kikil. Untuk menemukannya, saya dan suami mengandalkan pencarian daring.

Kami datang dengan ekspektasi tertentu, meski sesampainya di sana harus mengakui sedikit kecewa. Warung yang kami datangi sangat sederhana dan kurang terawat.

Sebenarnya, kesederhanaan bukan masalah, namun ada batas-batas kenyamanan yang sulit diabaikan. Dalam hati, saya sempat menyesal tidak mengikuti saran teman untuk datang pagi hari di pasar, karena sore hari pilihannya memang lebih terbatas.

Meski begitu, tujuan utama tetap tercapai: mencicipi horog-horog.

Kami memesan satu porsi saja, sekadar mencoba. Tak lama kemudian, seporsi pecel dengan horog-horog terhidang. Warnanya putih cenderung pucat, dengan rasa yang sangat netral dan tekstur padat yang mudah pecah saat digigit.

Berbeda dari deskripsi kenyal yang saya baca, horog-horog yang saya cicipi terasa lebih kering. Entah karena kurang segar atau memang seperti itulah karakternya.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Kata Netizen
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Kata Netizen
Mantan Menikah, Saat Undangan Pernikahan Membuka Laci Kenangan
Mantan Menikah, Saat Undangan Pernikahan Membuka Laci Kenangan
Kata Netizen
Bel Sekolah Otomatis dan Pelajaran Berharga dari Guru Berani Mencoba
Bel Sekolah Otomatis dan Pelajaran Berharga dari Guru Berani Mencoba
Kata Netizen
Perpustakaan Keliling dan Upaya Menghidupkan Budaya Baca di Sekolah
Perpustakaan Keliling dan Upaya Menghidupkan Budaya Baca di Sekolah
Kata Netizen
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Kata Netizen
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Kata Netizen
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Kata Netizen
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kata Netizen
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Kata Netizen
Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan
Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan
Kata Netizen
Lebih dari Soal Alat Tulis dan Rapuhnya Jaring Pengaman Sosial
Lebih dari Soal Alat Tulis dan Rapuhnya Jaring Pengaman Sosial
Kata Netizen
Ketika Pertanyaan Anak Menjadi Cermin Cara Dewasa Berpikir
Ketika Pertanyaan Anak Menjadi Cermin Cara Dewasa Berpikir
Kata Netizen
Alasan-alasan Kita Jarang Bertamu ke Rumah Tetangga
Alasan-alasan Kita Jarang Bertamu ke Rumah Tetangga
Kata Netizen
Satu Batik, Banyak Fungsi, dan Busana Lokal yang Tak Pernah Keliru
Satu Batik, Banyak Fungsi, dan Busana Lokal yang Tak Pernah Keliru
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau