
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ada hal menarik agar kita bisa kita dapat untuk mengenal sebuah kota atau daerah, yakni dimulai dari meja makan.
Cara terbaik menemukan kuliner khas suatu daerah sering kali bukan dengan mengandalkan mesin pencari, melainkan bertanya langsung kepada penduduk aslinya. Itulah yang saya lakukan ketika berkunjung ke Jepara.
Google memang menawarkan banyak referensi, tetapi rekomendasi seorang kawan terasa lebih personal dan adil. Mereka biasanya mempertimbangkan selera, kebiasaan, bahkan kondisi kita ketika memberi saran—sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh algoritma.
Semasa kuliah, saya memiliki seorang teman dekat yang berasal dari Jepara. Seiring waktu, komunikasi kami memang tak lagi seintens dulu.
Namun, sesampainya di Jepara, saya teringat untuk kembali menghubunginya. Momen seperti inilah yang sering kali menghidupkan kembali relasi lama—sekaligus membuka percakapan baru.
Meski kini tinggal di kota lain mengikuti suaminya, ia lahir dan besar di Jepara. Pengetahuannya tentang kuliner lokal tentu tidak diragukan. Beberapa nama makanan langsung ia sebutkan, dan saya pun tertarik untuk mencicipi sebagian di antaranya.
Horog-horog dan Jejak Sejarah di Piring Makan
Pecel bisa ditemukan hampir di semua daerah, tetapi pecel horog-horog hanya ada di Jepara. Kuliner inilah yang menjadi rekomendasi pertama: sarapan pecel horog-horog di pasar tradisional.
Dalam seporsi pecel ini, horog-horog berfungsi sebagai sumber karbohidrat, mirip dengan lontong atau gendar di daerah lain.
Karena posisinya sebagai pengganti nasi, horog-horog bisa dipadukan dengan berbagai lauk, mulai dari bakso, soto, gulai, hingga sate kikil. Untuk menemukannya, saya dan suami mengandalkan pencarian daring.
Kami datang dengan ekspektasi tertentu, meski sesampainya di sana harus mengakui sedikit kecewa. Warung yang kami datangi sangat sederhana dan kurang terawat.
Sebenarnya, kesederhanaan bukan masalah, namun ada batas-batas kenyamanan yang sulit diabaikan. Dalam hati, saya sempat menyesal tidak mengikuti saran teman untuk datang pagi hari di pasar, karena sore hari pilihannya memang lebih terbatas.
Meski begitu, tujuan utama tetap tercapai: mencicipi horog-horog.
Kami memesan satu porsi saja, sekadar mencoba. Tak lama kemudian, seporsi pecel dengan horog-horog terhidang. Warnanya putih cenderung pucat, dengan rasa yang sangat netral dan tekstur padat yang mudah pecah saat digigit.
Berbeda dari deskripsi kenyal yang saya baca, horog-horog yang saya cicipi terasa lebih kering. Entah karena kurang segar atau memang seperti itulah karakternya.