Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ire Rosana Ullail
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Ire Rosana Ullail adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah

Kompas.com, 19 Januari 2026, 12:04 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Namun, justru di situlah letak keunikan makanan ini. Horog-horog memang penganan sederhana dan merakyat—dan kesederhanaan itu tak lepas dari sejarahnya.

Konon, pada masa penjajahan Jepang, masyarakat Jepara diwajibkan menyerahkan hasil panen padi kepada tentara Jepang.

Nasi pun menjadi makanan yang hanya boleh dikonsumsi oleh kalangan tertentu. Dalam kondisi sulit itulah, masyarakat memanfaatkan tepung aren sebagai bahan pangan pengganti nasi.

Dari proses pembuatannya yang menghasilkan bunyi “horog-horog”, lahirlah nama makanan ini.

Kawan saya menyarankan agar pecel horog-horog disantap bersama sate cecek atau kikil. Sayangnya, lauk tersebut tidak tersedia di warung yang kami datangi. Meski hambar, rasa horog-horog ternyata mudah menyatu dengan bumbu pecel.

Bagi saya, rasanya masih bisa diterima, meski belum sepenuhnya akrab. Pada akhirnya, seporsi itu lebih banyak dihabiskan oleh suami.

Gudeg dan Lontong Opor di Warung Legendaris

Kuliner berikutnya membawa kami ke sebuah warung makan rumahan yang cukup dikenal oleh warga lokal: Warung Nasi Gudeg dan Lontong Opor Ibu Hj. Suyek. Lokasinya tidak berada di jalan utama, melainkan di teras rumah penduduk.

Sekilas tampak sederhana, tetapi deretan panci dan baskom besar berisi lauk pauk menjadi penanda bahwa tempat ini memiliki banyak pelanggan. Kami memesan seporsi gudeg lauk telur dan lontong opor ayam.

Saat itu gudeg nangka sedang kosong, sehingga seporsi gudeg saya berisi nasi, tahu, krecek, sayur cabai hijau, dan ayam kuah. Sementara lontong opor berisi lontong, tahu, kacang panjang, telur, dan ayam.

Berbeda dari gudeg Yogyakarta yang identik dengan rasa manis, sajian di sini cenderung gurih. Santan terasa dominan, dengan kuah yang kental dan kaya rasa. Bagi lidah saya, kehadiran sayur cabai justru menyempurnakan keseluruhan cita rasa.

Tak lama berselang, warung mulai dipenuhi pembeli. Mayoritas memilih dibungkus untuk sarapan. Penjual dan pembeli sama-sama berpacu dengan waktu, karena warung ini biasanya tutup sekitar pukul 10 pagi.

Ritme seperti ini telah berlangsung lebih dari 50 tahun, menandakan usaha tersebut telah melewati tiga generasi. Bertahan selama itu tentu bukan perkara mudah. Jika rasanya biasa saja, tentu sulit menjaga pelanggan lintas generasi.

Menariknya, alih-alih membuka cabang atau memperbesar usaha, mereka memilih tetap berjualan dengan cara lama—sederhana, apa adanya, dan konsisten.

Menghangatkan Tubuh dengan Adon-adon Coro

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Kata Netizen
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan 'P'
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"
Kata Netizen
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Kata Netizen
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Kata Netizen
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Kata Netizen
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kata Netizen
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kata Netizen
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau