
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Jika kawasan Joglosemar dikenal dengan wedang ronde, Jepara memiliki minuman khas bernama adon-adon coro. Keduanya sama-sama berbahan rempah dan berfungsi menghangatkan tubuh.
Minuman ini kini mulai sulit ditemukan. Karena itu, ketika saya menjumpai gerobak adon-adon coro di Jalan Ki Mangunsarkoro, tepatnya di depan Baznas Jepara, rasanya seperti menemukan harta karun kecil.
Harga seporsinya sangat terjangkau, hanya sekitar Rp7.000, dengan porsi setara satu mangkuk wedang ronde. Meski murah, minuman ini memiliki nilai sejarah. Pada masa kolonial, adon-adon coro konon hanya dikonsumsi kalangan bangsawan dan menjadi minuman favorit R.A. Kartini.
Secara tampilan, kuahnya berwarna kecokelatan dan agak keruh. Isinya terdiri dari jahe, gula merah, santan, rempah-rempah, serta potongan kelapa kecil.
Satu tegukan langsung menghadirkan rasa hangat di tenggorokan. Manisnya pas, aroma jahe terasa lembut, dan gurih santan semakin kuat saat potongan kelapa tergigit. Setelah satu mangkuk habis, tubuh dan perut terasa lebih hangat sangat cocok dinikmati di musim hujan, yang belakangan memang sering menyapa Jepara.
Menyusuri Kota Lewat Rasanya
Meski belum mencicipi seluruh kuliner khas Jepara, saya bersyukur bisa mengenal tiga di antaranya. Tidak hanya soal rasa dan kenyang, pengalaman ini menyadarkan bahwa kondisi alam dan perjalanan sejarah turut membentuk identitas kuliner suatu daerah.
Dari horog-horog yang lahir dari keterbatasan, gudeg rumahan yang bertahan lintas generasi, hingga adon-adon coro yang sarat nilai sejarah, Jepara menyimpan cerita yang bisa dinikmati perlahan lewat rasa.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mencicipi 3 Kuliner Khas Kota Ukir"
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang