Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Efa Butar butar
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Efa Butar butar adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Satu Batik, Banyak Fungsi, dan Busana Lokal yang Tak Pernah Keliru

Kompas.com, 25 Januari 2026, 13:17 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Di tengah tren fesyen yang datang dan pergi, mengapa selembar batik justru layak menjadi pakaian andalan yang selalu ada di rumah?

Menggunakan batik sering kali diidentikkan sebagai salah satu cara menegaskan identitas nasional. Tidak berlebihan, mengingat batik telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia sejak 2 Oktober 2009, yang kemudian diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Namun, di luar makna simbolik tersebut, memiliki setidaknya satu potong batik di rumah sebenarnya membawa manfaat yang sangat praktis.

Entah dalam bentuk atasan, bawahan, atau kain utuh, batik kerap menjadi penyelamat saat kita dihadapkan pada kegiatan dengan aturan berpakaian tertentu. Ketika dress code meminta sentuhan formal atau etnik, batik hampir selalu menjadi jawaban aman.

Mudah Dipadupadankan untuk Berbagai Kesempatan

Anggapan bahwa batik hanya pantas dikenakan pada acara resmi kini semakin memudar. Seiring perkembangan mode, batik hadir dalam wajah yang lebih segar dan modern. Ia tak lagi terbatas pada acara adat atau seremonial, tetapi juga tampil sebagai outfit harian mulai dari ke kantor, ke kampus, menghadiri pesta, hingga sekadar nongkrong santai bersama teman.

Pilihan warna batik yang kini lebih berani, ditambah desain yang kian variatif, membuatnya mudah disesuaikan dengan berbagai gaya. Tidak hanya kemeja atau blus, batik juga hadir dalam bentuk vest, jaket bomber, hingga aksesori seperti obi belt dengan harga yang relatif terjangkau.

Obi belt sendiri terinspirasi dari ikat pinggang kain khas Jepang yang biasa digunakan bersama kimono.

Sedangkan di Indonesia, konsep ini diadaptasi menggunakan kain polos yang kemudian dikembangkan dengan motif batik, tenun, hingga ulos. Hasilnya adalah aksesori yang unik, fleksibel, dan bisa dikenakan dalam berbagai suasana.

Atasan batik pun kini tidak selalu tampil kaku. Selain model kemeja, banyak batik yang dihadirkan dalam bentuk kaus atau outer santai. Dengan satu atasan batik saja, pilihan bawahan menjadi lebih mudah—rok atau celana sama-sama bisa dipadukan tanpa terlihat berlebihan.

Soal desain untuk laki-laki, pilihannya juga tidak kalah beragam. Selain jaket bomber batik, ada pula gaya yang lebih ringkas: kemeja polos, celana kain, sepatu pantofel, lalu dilengkapi cukin.

Cukin adalah selendang batik khas budaya Betawi yang dilipat dan disampirkan di leher hingga menjuntai ke punggung. Aksesori ini kerap digunakan oleh pembawa acara atau host pria dalam berbagai kegiatan formal, memberi sentuhan etnik tanpa mengurangi kesan rapi.

Meski begitu, ada beberapa catatan menarik dalam penggunaan batik. Berdasarkan informasi dari laman Dutabangsa, batik sebaiknya tidak dipadukan dengan celana jeans dan sepatu sneakers atau olahraga. Selain itu, untuk laki-laki yang mengenakan kemeja batik berlengan panjang, bagian lengan sebaiknya tidak digulung.

Dalam klasifikasi busana, batik termasuk ke dalam kategori formal business attire—setara dengan setelan jas—sementara jeans masuk ke dalam kategori smart casual. Pemahaman ini membantu kita lebih bijak dalam memadukan batik sesuai konteks acara.

Keunggulan lain batik terletak pada palet warnanya yang khas. Kita bisa memilih satu warna dari motif batik untuk diselaraskan dengan tas, sepatu, atau bawahan. Tidak harus warna dominan; warna kecil dalam motif pun bisa menjadi inspirasi yang menarik untuk keseluruhan penampilan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau