
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Karena itu, saya sering merasa bahwa seorang MC sebenarnya mirip seorang aktor. Ia perlu memahami “naskah” acara, masuk ke dalam suasana yang dibangun, lalu menghadirkannya dengan pembawaan yang sesuai.
Tidak cukup hanya mengandalkan cue card atau kemampuan berbicara spontan semata.
Tentu, setiap orang bisa melakukan kesalahan. Yang paling penting adalah bagaimana kita belajar dari pengalaman tersebut.
Saya juga memahami bahwa kritik terhadap profesi MC adalah hal yang wajar. Hanya saja, terkadang saya sedikit menyayangkan ketika sesama profesi justru terlalu cepat menghakimi atau membandingkan diri seolah berada di posisi yang lebih baik.
Padahal, setiap orang pernah berada di titik belajar masing-masing.
Dan mungkin, di situlah pentingnya saling memahami: bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana di permukaan sering kali menyimpan proses panjang yang tidak semua orang sempat melihatnya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul ""Enak ya Jadi MC, Cuma Modal Ngomong Doang""
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang