
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Kalimat itu menjadi respons pertama yang saya dengar darinya.
Jujur, saya cukup terkejut. Saya memang berusaha tetap tenang, tetapi mungkin ekspresi wajah saya cukup mudah terbaca. Teman-teman saya sering bercanda bahwa wajah saya punya “subtitle”, karena sulit menyembunyikan perasaan.
Saya mencoba berpikir positif. Mungkin itu hanya candaan spontan atau gaya komunikasinya sehari-hari. Namun di sisi lain, saya juga bertanya dalam hati: apakah profesi MC memang masih sering dipandang sesederhana itu?
Padahal, sebelum acara berlangsung, saya sudah meluangkan waktu mempelajari materi yang akan dibahas, memahami latar belakang narasumber, hingga menyesuaikan gaya pembawaan agar acara berjalan nyaman bagi semua pihak.
Meski sempat merasa kurang nyaman, saya tetap berusaha profesional. Acara tetap harus berjalan dengan baik, dan tanggung jawab kepada panitia tentu harus diselesaikan sebaik mungkin.
Namun pengalaman itu membuat saya kembali merenungkan satu hal: pekerjaan seorang MC sering kali terlihat ringan karena hasil akhirnya memang tampak sederhana. Orang melihat seseorang berdiri di depan panggung, berbicara lancar, lalu acara berjalan mulus.
Padahal, ada banyak proses yang tidak terlihat di balik layar.
Seorang MC perlu memahami alur acara secara detail, membaca situasi ruangan, menjaga energi audiens, hingga merespons berbagai kemungkinan tak terduga dengan cepat dan tepat. Dalam banyak acara, MC juga menjadi “penjaga ritme” agar seluruh rangkaian tetap berjalan sesuai arah.
Pengalaman itu kembali teringat ketika saya mengikuti pemberitaan mengenai polemik MC dalam acara Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar yang diselenggarakan oleh MPR RI.
Salah satu bagian yang cukup ramai disorot publik adalah pilihan kalimat dari MC yang dianggap kurang tepat dalam merespons peserta. Ada ucapan yang berbunyi, “Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja.”
Bagi saya pribadi, kalimat tersebut memang kurang ideal disampaikan dalam konteks perlombaan. Seorang MC atau moderator seharusnya menjaga posisi yang netral dan tidak memberi kesan memihak atau meremehkan perasaan peserta.
Namun di sisi lain, saya juga merasa bahwa situasi seperti itu menunjukkan betapa besar tanggung jawab seorang MC di atas panggung. Dalam hitungan detik, seorang MC harus mengambil keputusan verbal yang tepat di tengah tekanan situasi yang berlangsung cepat.
Menjadi MC memang membutuhkan kemampuan berbicara yang baik. Tetapi ternyata, itu bukan satu-satunya modal.
Ada kemampuan membaca suasana, memahami karakter acara, menjaga komunikasi, hingga mengelola emosi dalam situasi yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Acara formal tentu berbeda dengan acara hiburan. Membawakan lomba berbeda dengan memandu pernikahan atau seminar. Setiap panggung memiliki dinamika dan pendekatan yang berbeda pula.