Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Akbar Pitopang
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Akbar Pitopang adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Dear Presiden, Pendidikan dan Kesehatan Itu Fondasi!

Kompas.com, 21 Juni 2026, 14:55 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto yang saya hormati,

Indonesia hari ini sedang bergerak dengan berbagai agenda pembangunan yang besar. Sejumlah kebijakan baru mendapat sambutan positif dari masyarakat, sementara kritik dan masukan juga terus mengalir sebagai bagian dari dinamika demokrasi.

Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan satu keyakinan sederhana: apabila Indonesia ingin melangkah menuju kemajuan yang berkelanjutan, maka pendidikan dan kesehatan perlu terus ditempatkan sebagai fondasi utama pembangunan manusia.

Keduanya merupakan bagian penting dari human capital, yaitu modal dasar yang menentukan kualitas sumber daya manusia melalui pengetahuan, keterampilan, dan kesehatan yang baik. Dalam berbagai dokumen perencanaan negara, pembangunan manusia memang menjadi salah satu pilar penting menuju Indonesia Maju.

Pendidikan sebagai Investasi Jangka Panjang

Pendidikan merupakan fondasi yang membuka kesempatan hidup yang lebih baik. Pendidikan membantu meningkatkan keterampilan, memperluas akses pekerjaan, sekaligus menjadi salah satu jalan untuk mengurangi kemiskinan.

Berbagai penelitian global menunjukkan bahwa tambahan tahun pendidikan berkorelasi dengan peningkatan produktivitas dan pendapatan. Karena itu, sekolah yang berkualitas bukan hanya melahirkan pekerja, tetapi juga wirausaha, inovator, dan warga negara yang lebih tangguh menghadapi perubahan.

Namun demikian, berbagai tantangan masih perlu menjadi perhatian bersama.

Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis OECD, capaian siswa Indonesia pada bidang matematika, membaca, dan sains masih berada di bawah rata-rata OECD.

Temuan tersebut tentu bukan untuk membuat kita berkecil hati, melainkan menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah di sektor pendidikan masih sangat besar.

Temuan World Bank pada survei layanan pendidikan Indonesia tahun 2020 juga menunjukkan masih adanya kesenjangan kemampuan belajar siswa serta tantangan terkait kualitas guru dan sarana pendidikan.

Karena itu, anggaran pendidikan yang selama ini telah menjadi prioritas nasional kiranya perlu terus dijaga sebagai investasi masa depan. Berbagai upaya peningkatan kompetensi guru, perbaikan infrastruktur sekolah, penguatan pendidikan vokasi, serta keterkaitan pendidikan dengan dunia kerja merupakan arah kebijakan yang patut dilanjutkan secara konsisten.

Di antara berbagai komponen pendidikan, sosok guru memiliki peran yang sangat penting. Berbagai kajian menempatkan kualitas guru sebagai salah satu faktor yang paling menentukan keberhasilan belajar siswa.

Guru yang didukung secara profesional dan memiliki kesejahteraan yang baik akan lebih mampu menghadirkan proses belajar yang hidup dan bermakna. Karena itu, perhatian terhadap peningkatan kompetensi, perlindungan, dan penghargaan kepada para pendidik menjadi investasi yang tidak kalah penting.

Menjaga Kesehatan untuk Produktivitas Bangsa

Selain pendidikan, kesehatan juga memiliki posisi yang sangat strategis.

Masyarakat yang sehat akan lebih produktif, lebih mampu bekerja, belajar, dan berkontribusi bagi pembangunan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun World Bank sama-sama menempatkan kesehatan sebagai salah satu penopang utama produktivitas manusia.

Dalam APBN 2025, pemerintah juga telah menempatkan sektor kesehatan sebagai prioritas, termasuk penguatan layanan primer, pemerataan tenaga kesehatan, serta upaya percepatan penurunan stunting.

Kabar baiknya, prevalensi stunting nasional menunjukkan tren penurunan. Capaian tersebut tentu patut diapresiasi.

Meski demikian, pekerjaan besar masih menanti karena masih banyak anak Indonesia yang membutuhkan dukungan gizi dan layanan kesehatan yang optimal agar dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal.

Belajar dari Pengalaman Negara Lain

Dalam era global saat ini, masyarakat memiliki banyak pilihan. Tidak sedikit pelajar Indonesia yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri, termasuk ke Malaysia.

Demikian pula dalam bidang kesehatan, Malaysia menjadi salah satu tujuan yang cukup banyak dipilih oleh masyarakat Indonesia untuk memperoleh layanan medis.

Fenomena tersebut dapat menjadi bahan refleksi bersama. Ketika kualitas layanan pendidikan dan kesehatan dianggap mampu memberikan rasa percaya dan kenyamanan yang tinggi, masyarakat rela menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkannya.

Hal ini bukan soal persaingan antarnegara, melainkan menjadi pengingat bahwa kualitas layanan yang baik akan selalu menjadi daya tarik.

Pendidikan Memberi Arah, Kesehatan Memberi Tenaga

Bapak Presiden yang saya hormati,

Bagi saya, pendidikan dan kesehatan merupakan dua fondasi yang saling melengkapi. Pendidikan memberi arah dan kemampuan berpikir; kesehatan memberikan tenaga untuk melangkah.

Anak-anak yang sehat akan lebih siap belajar. Sebaliknya, pendidikan yang baik akan membantu mereka tumbuh menjadi generasi yang produktif dan mampu menghadapi tantangan masa depan.

Oleh karena itu, saya berharap perhatian terhadap kedua sektor ini dapat terus dijaga. Guru, tenaga kesehatan, sekolah, puskesmas, rumah sakit, serta seluruh ekosistem yang mendukung pembangunan manusia kiranya tetap menjadi prioritas dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.

Kemajuan sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik semata. Kemajuan juga dapat dirasakan dari kualitas ruang kelas, kesejahteraan para guru, layanan kesehatan yang mudah diakses, serta anak-anak yang tumbuh sehat dan memperoleh kesempatan belajar yang baik.

Saya percaya, apabila pendidikan dan kesehatan terus diperkuat, jalan menuju Indonesia yang lebih maju akan semakin terbuka.

Semoga ikhtiar bersama ini membawa kebaikan bagi bangsa dan generasi yang akan datang.

Aamiin.

Hormat saya,
Seorang pendidik yang percaya bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan investasi terbaik untuk masa depan Indonesia.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Dear Presiden, Gembok Indonesia Maju Bisa Dibobol dengan 2 Kunci Ini"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Nilai Terbaik Anak Tidak Selalu Tertulis di Dalam Rapor
Nilai Terbaik Anak Tidak Selalu Tertulis di Dalam Rapor
Kata Netizen
Sepak Bola Plastik dan Masa Kecil yang Masih Hidup
Sepak Bola Plastik dan Masa Kecil yang Masih Hidup
Kata Netizen
Ketahanan Pangan yang Tumbuh dari Sebidang Lahan Hibah
Ketahanan Pangan yang Tumbuh dari Sebidang Lahan Hibah
Kata Netizen
SPMB Jalur Domisili Zona 1 dan Pentingnya Akurasi Data
SPMB Jalur Domisili Zona 1 dan Pentingnya Akurasi Data
Kata Netizen
Dear Presiden, Pendidikan dan Kesehatan Itu Fondasi!
Dear Presiden, Pendidikan dan Kesehatan Itu Fondasi!
Kata Netizen
Pertamax dan Mesin-mesin Kecil yang Menopang Kehidupan
Pertamax dan Mesin-mesin Kecil yang Menopang Kehidupan
Kata Netizen
Ketika Wajah Perempuan Terlalu Cepat Dinilai
Ketika Wajah Perempuan Terlalu Cepat Dinilai
Kata Netizen
Dua Ekor Domba Betina dan Harapan yang Terus Bertumbuh
Dua Ekor Domba Betina dan Harapan yang Terus Bertumbuh
Kata Netizen
Komik Lipat dan Kenangan Manis di Balik Bungkus Jajanan
Komik Lipat dan Kenangan Manis di Balik Bungkus Jajanan
Kata Netizen
Saat Gelas Bekas Menjadi Harapan Baru bagi Bibit Bugenvil
Saat Gelas Bekas Menjadi Harapan Baru bagi Bibit Bugenvil
Kata Netizen
Kesempatan dan Keadaan untuk Menabung Semakin Menyempit
Kesempatan dan Keadaan untuk Menabung Semakin Menyempit
Kata Netizen
Menghadirkan Alam di Sudut Sederhana Pekarangan
Menghadirkan Alam di Sudut Sederhana Pekarangan
Kata Netizen
Lebih dari Sekadar Mengajar, Dosen Bertumbuh Bersama Mahasiswa
Lebih dari Sekadar Mengajar, Dosen Bertumbuh Bersama Mahasiswa
Kata Netizen
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Kata Netizen
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau