Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yana Haudy
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yana Haudy adalah seorang yang berprofesi sebagai Full Time Blogger. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Apa Bahaya Mengabaikan Rating Usia Film bagi Anak?

Kompas.com - 02/12/2022, 19:15 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Di samping itu menurut The Atlantic Daily, anak yang terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk berselancar di internet dan media sosial cenderung tidak lebih bahagia dibandingkan dengan anak-anak yang jarang bermain media sosial dan internet.

Dari ketidakbahagiaan itulah akhirnya akan memunculkan gangguan mental pada anak. Hal ini akan semakin memperburuk kesehatan mental anak jika anak masih dibolehkan untuk menonton flm dengan rating usia yang jauh di atas usianya.

Selain itu, kecanggihan internet, teknologi, dan hadirnya berbagai macam media sosial juga dapat mengakibatkan anak generasi Z mengalami pubertas dini di usia kurang dari 12 tahun.

Sebab, hal itu dipengaruhi oleh produksi hormon dopamin dan melantonin yang berlebih karena pengaruh layar biru yang terdapat pada gawai.

Memberi Pengertian pada Anak

Lantas, bagaimana sebaiknya orangtua bersikap jika anak yang belum cukup usianya ingin menonton film dengan rating jauh di atas usianya?

Tentu, orangtua harus memberikan penjelasan dan pengertian pada anak-anaknya perihal aturan menonton film sesuai rating usianya. Dalam memberikan pengertian itu, orangtua bisa melakukan beberapa hal berikut.

Pertama, beritahu bahwa rating usia dibuat bukan untuk melarang anak-anak menonton film, tetapi untuk menjaga supaya mental anak tetap baik dan tidak jadi dewasa sebelum waktunya.

Anak yang terlalu cepat dewasa sebelum waktunya akan cenderung malu untuk melakukan aktivitas yang lazimnya dilakukan anak-anak seusianya. Akibatnya dia jadi kehilangan masa kecil yang berujung pada anak tidak bahagia.

Seseorang yang masa kecilnya tidak bahagia akan memiliki masalah mental saat dewasa kelak, beberapa di antaranya seperti berikut ini.

  1. Cenderung berpikir pendek yang membuatnya gegabah dalam mengambil keputusan.
  2. Melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukannya saat kecil dengan mengatasnamakan anak-anaknya.
  3. Tidak mengenali potensi diri yang sebenarnya karena selalu merasa ada yang ada yang kurang, entah dirinya atau orang lain yang kurang memuaskan baginya.
  4. Cenderung egois dan melihat suatu hal hanya dari sudut pandangnya sendiri.

Kedua, biarkan anak menonton trailer film dengan rating usia 13 atau 17 tahun ke atas lalu jelaskan mengapa dia belum boleh menonton film itu.

Cara ini sebenarnya boleh dilakukan boleh juga tidak. Namun bila memang ingin melakukannya, orangtua bisa menunjukkan suatu cuplikan atau trailer film dengan rating yang jauh di atas usia anaknya.

Setelah sang anak selesai menontonnya, barulah orangtua memberikan penjelasan mengapa dia belum dibolehkan menonton film tersebut secara utuh di usianya sekarang, seperti misalnya di dalam film banyak adegan perkelahian atau adegan dewasa.

Sebab, anak yang sering terpapar tontonan dengan banyak adegan perkelahian di dalamnya akan meyakini jika berkelahi itu sesuatu yang wajar, padahal tujuannya adalah untuk membela diri.

Melalui penjelasan orangtua yang baik dan runut tentang semua itu, niscaya anak tidak akan merasa dilarang.

Ketiga, alihkan dengan kegiatan lain. Orangtua bisa mencoba mengalihkan perhatian anak dengan kegiatan lain agar anak tidak melulu memikirkan tentang film yang sedang banyak dibicarakan orang.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

'Selain Donatur Dilarang Mengatur', untuk Siapa Pernyataan Ini?

"Selain Donatur Dilarang Mengatur", untuk Siapa Pernyataan Ini?

Kata Netizen
Kenapa Mesti Belajar Menolak dan Bilang 'Tidak'?

Kenapa Mesti Belajar Menolak dan Bilang "Tidak"?

Kata Netizen
'Fatherless' bagi Anak Laki-laki dan Perempuan

"Fatherless" bagi Anak Laki-laki dan Perempuan

Kata Netizen
Mudik Backpacker, Jejak Karbon, dan Cerita Perjalanan

Mudik Backpacker, Jejak Karbon, dan Cerita Perjalanan

Kata Netizen
Antara RTB dan Kualitas Hidup Warga Jakarta?

Antara RTB dan Kualitas Hidup Warga Jakarta?

Kata Netizen
Apa yang Membuat Hidup Sederhana Jadi Pilihan?

Apa yang Membuat Hidup Sederhana Jadi Pilihan?

Kata Netizen
Pembelajaran dari Ramadan, Minim Sampah dari Dapur

Pembelajaran dari Ramadan, Minim Sampah dari Dapur

Kata Netizen
Bagaimana Premanisme Bisa Hidup di Tengah Kehidupan?

Bagaimana Premanisme Bisa Hidup di Tengah Kehidupan?

Kata Netizen
Kasus Konstipasi Meningkat Selama Puasa, Ini Solusinya!

Kasus Konstipasi Meningkat Selama Puasa, Ini Solusinya!

Kata Netizen
Zakat di Sekolah, Apa dan Bagaimana Caranya?

Zakat di Sekolah, Apa dan Bagaimana Caranya?

Kata Netizen
Kesiapan Tana Toraja Sambut Arus Mudik Lebaran

Kesiapan Tana Toraja Sambut Arus Mudik Lebaran

Kata Netizen
Ada Halte Semu bagi Pasien Demensia di Jerman

Ada Halte Semu bagi Pasien Demensia di Jerman

Kata Netizen
Memberi Parsel Lebaran, Lebih dari Sekadar Berbagi

Memberi Parsel Lebaran, Lebih dari Sekadar Berbagi

Kata Netizen
Melihat Kota Depok Sebelum dan Setelah Lebaran

Melihat Kota Depok Sebelum dan Setelah Lebaran

Kata Netizen
'Mindful Eating' di Bulan Ramadan dan Potensi Perubahan Iklim

"Mindful Eating" di Bulan Ramadan dan Potensi Perubahan Iklim

Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau