Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Widi Kurniawan
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Widi Kurniawan adalah seorang yang berprofesi sebagai Human Resources. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Dari Sisi Penumpang, Begini Rasanya Naik KRL Impor Bekas Jepang

Kompas.com, 11 April 2023, 09:10 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Akan tetapi, secara umum KRL bekas dari Jepang ini masih bisa dibilang layak pakai terutama untuk mengangkut penumpang dengna tingkat kepadatan yang luar biasa setiap harinya.

Ada satu unit KRL yang menjadi favorit bagi penumpang serta penggemar KRL, yakni seri JR-205 dengan wajah yang dikenal dengan istilah "Marchen Face".

Kereta ini datang ke Indonesia sejak 2019 dan menjadi yang terbaru di antara jenis kereta lainnya. Mesinnya masih terasa halus ketika melaju. Juga interior dalam kabin seperti besi pegangan yang kokoh dan bangku yang masih empuk.

Itulah hebatnya kereta bekas Jepang, meskipun di negara asalnya sudah pensiun tetapi masih bisa melayani kebutuhan di Indonesia.

Bagaimana dengan kereta bikinan INKA?

Sampai saat ini, KRL buatan anak bangsa sebenarnya pernah melayani penumpang dengna rute Jabodetabek di medio tahun 2013 silam.

Namun sayang, kereta buatan INKA ini dinilai kalah saing dengan kereta buatan Jepang. Saya masih ingat bagaimana kecewanya penumpang jika yang datang menjemput adalah kereta ini.

Banyak hal yang menyebabkan kerata INKA saat itu tidak disenangi, salah satunya adalah kerap mogok. Sehingga kerata ini secara perlahan kerata ini “turun kasta” menjadi sebatas kereta pengumpan atau feeder dan selanjutnya sama sekali menghilang dari jalur Jabodetabek untuk dilakukan penyempurnaan kembali oleh INKA.

Saat ini kerata buatan INKA dengan seri EA202 atau KRL i9000 KfW telah lahir kembali dan bertugas melayani lintas KRL Jogja-Solo.

Suasana di dalam gerbong KRL buatan INKA lintas Jogja-Solo.Kompasianer Widi Kurniawan Suasana di dalam gerbong KRL buatan INKA lintas Jogja-Solo.
Terdapat beberapa perubahan signifikan yang saya rasakan ketika mencoba kereta ini beberapa waktu lalu, yang intinya membuat lebih nyaman ditumpangi.

Namun, jika kelak kereta baru dari INKA akan digunakan di jalur Jabodetabek yang lebih padat penumpang, maka seharusnya kereta baru harus sesuai dengan kondisi saat ini dan ke depan.

Utamanya desain gerbong. KRL i9000 KfW buatan INKA masih terlalu banyak lengkungan yang akan membatasi jumlah dan ruang gerak penumpang ketika dalam kondisi sangat padat.

Berbeda dengan seri buatan Jepang yang rata-rata kotak, sehingga tidak akan terlalu mengganggu posisi berdiri penumpang di dalamnya.

Meski demikian, sayangnya kereta baru buatan INKA ini konon baru akan diproduksi tahun 2025 mendatang akibat leletnya pemesanan. Penumpang harus rela bersabar dengan kondisi saat ini jika memang keran impor kereta dari Jepang masih ditutup.

Pada akhirnya, memang nasib penumpang lah yang dipertaruhkan di tengah polemik pengadaan KRL ini.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Begini Rasanya Naik KRL Impor Bekas Jepang"

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Urban Farming, Harapan Baru Pangan Berkelanjutan
Kata Netizen
Membaca KUHP Baru dari Sudut Profesi Dokter Hewan
Membaca KUHP Baru dari Sudut Profesi Dokter Hewan
Kata Netizen
Pagi Mie Kondang, Taichan Malamnya: Cerita Kuliner Khas “Anak Jaksel”
Pagi Mie Kondang, Taichan Malamnya: Cerita Kuliner Khas “Anak Jaksel”
Kata Netizen
'Kapitil' Masuk KBBI, Apa Makna dan Bagaimana Penggunaannya?
"Kapitil" Masuk KBBI, Apa Makna dan Bagaimana Penggunaannya?
Kata Netizen
Rajabasa dan Pelajaran Tentang Alam yang Tak Pernah Bisa Diremehkan
Rajabasa dan Pelajaran Tentang Alam yang Tak Pernah Bisa Diremehkan
Kata Netizen
Harga Buku, Subsidi Buku, dan Tantangan Minat Baca
Harga Buku, Subsidi Buku, dan Tantangan Minat Baca
Kata Netizen
Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat
Rapor Anak dan Peran Ayah yang Kerap Terlewat
Kata Netizen
Merawat Pantun, Merawat Cara Kita Berbahasa
Merawat Pantun, Merawat Cara Kita Berbahasa
Kata Netizen
Bukan Sekadar Cerita, Ini Pentingnya Riset dalam Dunia Film
Bukan Sekadar Cerita, Ini Pentingnya Riset dalam Dunia Film
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau