Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Felix Tani
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Felix Tani adalah seorang yang berprofesi sebagai Ilmuwan. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Melihat Pisang dan Filosofinya bagi Masyarakat Batak Toba

Kompas.com, 16 Juli 2023, 07:16 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Namun, tanpa dimasak pun sebenarnya jantung pisang bisa dimakan begitu saja. Saat saya kecil, bersama teman-teman saya sering makan jantung pisang mentah.

Cara makannya, pelepah jantung pisang dibuka sampai terlihat bagian putih di dalamnya. Bagian putih itulah yang enak dimakan meski tanpa dimasak.

Lalu pelepahnya juga bisa dimanfaatkan dengan cara dikeringkan untuk kemudian disuwir-suwir menjadi tali pengikat. Terkadang digunakan juga sebagai pembungkus bibit kopi.

Bagian pisang lainnya yang juga biasa dimanfaatkan oleh masyarakat Batak adalah umbutnya, dari pisang anakan, yang diolah menjadi sayur. Umbut pisang ini juga bisa dimakan tanpa dimasak.

Bonggol pisang sebenarnya juga bisa dimanfaatkan untuk dibuat menjadi keripik. Namun, karena orang Batak tak punya tradisi bikin keripik, jadi tak pernah saya melihat orang Batak makan bonggol pisang.

Pisang juga bagi anak-anak merupakan sumber kegembiraan. Semua bagiannya pasti bisa dimanfaatkan anak-anak.

Misalnya, bagian batang pisang bisa dibuat menjadi rakit untuk belajar berenang di tebat atau pelepah daunnya yang bisa dibuat bedil-bedilan untuk main perang-perangan.

Bagian-bagian lain juga tak luput dimanfaatkan, manisan bunganya, kumbang-kumbang kecil yang ada di dalam batang pisang busuk bisa dimakan, kelelawar yang bersembunyi di dalam daun muda yang belum terbuka juga terkadang ditangkap oleh anak-anak.

***

Jadi pada dasarnya, bagi orang Batak Toba semua bagian pohon pisang itu berguna. Tentu perlu dipahami bahwa berbeda suku akan berbeda pula budaya, tafsir terhadap pohon pisang, serta berbeda ragam pemanfaatannya.

Saya hanya menceritakan apa yang sekian puluh tahun saya alami sendiri, khususnya dalam lingkungan masyarakat Batak Toba.

Bagi orang Batak Toba, pisang jelas telah menjadi bagian integral budayanya. Pohon pisang, dengan pelepahnya yang saling-lapis adalah simbol kebersamaan dan keutuhan kerabat dan masyarakat.

Di samping itu pisang juga menjadi sumberdaya ekonomi dan sosial masyarakat. Buahnya yang merupakan sumber penghasilan, daunnya yang selain bisa menjadi sumber penghasilan, juga bisa menjadi perlengkapan makanan saat pesta.

Tak hanya bagi orang dewasa, bagian pohon pisang juga bermanfaat untuk anak-anak sebagai sumber makanan dan alat permainan. Boleh dikatakan pohon pisang itu menjadi basis kreativitas bagi anak-anak.

Namun tentu seiring perkembangan zaman akan ada perubahan. Misalnya, penggunaan daun pisang untuk wadah makanan kini sudah sangat jarang digunakan, sebab acara makan dalam pesta adat Batak kini cenderung individualis.

Jadi, tamu undangan yang datang pun akan makan menggunakan piring dan cangkir masing-masing.

Maka seperti itulah kira-kira sekelumit kisah tentang pisang yang menjadi bagian budaya masyarakat Batak Toba.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pisang dalam Budaya Batak Toba"

 
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau