
Mereka lebih menyukai materi berupa teks pendek dan yang serba visual, seperti video, meme, serta microblog. Meski begitu, Milenial dan Gen Z sama-sama menyukai kampanye berbentuk pesta seni.
Kalau melihat dari kacamata pemilih muda dan pemilih pemula, Ganjar dan Gibran bersaing ketat sebab keduanya aktif di media sosial X (dulu Twitter) dan Instagram.
Ganjar bahkan aktif di YouTube lewat kanalnya sendiri. Ketika Ganjar masih jadi Gubernur Jateng, kanal Pemprov Jateng selalu aktif menginformasikan pembangunan dan blusukan yang dilakukan Ganjar.
Setali tiga uang, Mahfud juga aktif di X termasuk menjawab pertanyaan dan menimpali isu kekinian yang berhubungan dengan sospolhukam. Sementara itu, pasangan AMIN ketinggalan dalam berinteraksi di medsos walau sukarelawan dan simpatisan Anies sudah sejak lama mendengungkan prestasi dan karakter unggul Anies.
Dengan melihat karakter umum milenial yang mandiri, kreatif, inovatif, loyal, dan terbuka terhadap perubahan, tim pemenangan capres-cawapres setidaknya bisa mengatur para sukarelawan dan pendengung untuk berkampanye secara smart and elegant. Bila suara Milenial berhasil direbut, banyak Gen Z akan mengikuti milenial untuk memutuskan capres-cawapres mana yang mereka coblos.
Presiden dan wakilnya memang dipilih oleh rakyat, tetapi proses memunculkan sosok capres-cawapres ada di tangan partai politik.
Rakyat seringnya tidak punya pilihan selain memilih yang sudah disediakan koalisi parpol. Bagaimana mekanisme dan proses penjaringan capres-cawapres pun rakyat pernah tidak tahu.
Meski begitu kita jangan sampai golput. Manfaatkan pemilu yang digelar lima tahun sekali ini untuk menggunakan hak suara kita untuk memilih calon yang kita anggap layak. Sebab, seperti apa yang Romo Magnis Suseno katakan, pemilu bukanlah untuk memilih yang terbaik, melainkan mencegah yang jahat berkuasa.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Cara Kampanye Capres-Cawapres yang Paling Disukai Pemilih Muda dan Pemula"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.