Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yayuk CJ
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yayuk CJ adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Beras Porang, Alternatif Kaya Manfaat Ketika Harga Beras Putih Meroket

Kompas.com, 15 Maret 2024, 20:15 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Peningkatan harga beras telah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat belakangan ini. Banyak ibu rumah tangga yang saling curhat ketika bertemu di toko kelontong/sayur langganan mereka. Tak hanya para ibu rumah tangga, keresahan serupa juga dialami oleh pemilik toko. Melihat harga beras yang kian tinggi, mereka lantas hanya bisa pasrah menerima.

Melihat fenomena ini, respons masyarakat dalam menyikapinya tentu berbeda-beda. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mencari alternatif selain beras?

Seiring dengan bertambahnya usia, tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan. Rasa lelah, kelelahan, dan ketidaknyamanan menjadi lebih sering terjadi. Penyakit-penyakit seperti hipertensi, nyeri sendi, infeksi saluran kemih, masalah ginjal, diabetes, dan lainnya mulai mengintai.

Tentu saja, semua ini menimbulkan kekhawatiran dan menuntut usaha untuk menjaga tubuh tetap segar dan bugar. Selain melakukan olahraga, pola makan dengan konsumsi makanan sehat juga menjadi sangat penting.

Beras putih, yang biasanya menjadi pilihan utama, dinilai mengandung kalori dan karbohidrat tinggi, serta rendah serat. Hal ini perlu dipertimbangkan pada usia yang lebih tua.

Untuk mengantisipasi hal ini, saya memilih beras porang sebagai alternatif untuk menggantikan beras putih dalam diet. Bagi sebagian orang, terutama yang menjalani diet rendah kalori, beras porang bukanlah hal yang asing. Selain itu, beras porang juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.

Apa Itu Porang?

Porang, atau Amorphophallus muelleri Blume, adalah jenis umbi dengan serat tinggi dan karbohidrat rendah. Umbinya bulat dengan cekungan di bagian atas. Saat dibelah, dagingnya berwarna kuning keemasan dan mengeluarkan kristal cair bernama asam oksalat. Jika tidak diolah dengan benar, asam oksalat ini dapat menyebabkan iritasi dan gangguan ginjal.

Meskipun memiliki manfaat kesehatan yang banyak, masyarakat umum sering kesulitan mengolahnya sendiri karena asam oksalatnya. Namun, asam oksalat dapat dihilangkan dengan beberapa metode, seperti penggunaan larutan NaCl, bio pengurai, garam krosok, dan abu.

Biasanya porang tumbuh dengan mudah di dataran rendah yang sedikit kering, seperti semak belukar, area terganggu, dan pinggiran hutan. Apabila dibudidaya oleh petani, porang dapat panen perdana dalam jangka waktu 2 tahun dan selanjutnya setiap satu tahun sekali porang dapat dipanen kembali tanpa perlu menanam umbinya lagi.

Porang dibudidayakan oleh petani di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di desa Rejoyoso, Bantur, Kabupaten Malang. Umbi porang diekspor dan diolah menjadi tepung dan keripik di kota Pasuruan, yang merupakan sentra budidaya dan pengolahan porang sejak tahun 1971.

Sebelum menjadi populer, porang sudah menjadi komoditas ekspor yang menjanjikan. Harapannya, dengan perkembangan teknologi, Indonesia dapat memproduksi sendiri makanan dari porang sehingga lebih mudah diakses oleh masyarakat.

Selain porang, ada juga olahan beras rendah kalori yang dikenal dengan nama shirataki. Produk ini juga terkenal sebagai makanan diet dan tersedia dalam bentuk tepung, beras, dan mie.

Olahan dari porang dan konjac (bahan dasar shirataki) ini terkenal dapat menurunkan berat badan, menurunkan kolesterol, mencegah sembelit, dan aman bagi penderita diabetes.

Dalam kunjungan Presiden Jokowi ke pabrik pengolahan porang di Madiun pada 19 Agustus 2021 lalu, beliau menegaskan bahwa porang merupakan komoditas pengganti beras yang lebih sehat karena kadar gulanya sangat rendah.

Porang memiliki manfaat kesehatan yang sangat beragam, mulai dari rendah kalori hingga bebas gula. Semakin banyak orang yang menyadari manfaatnya ini, semakin berkembang pula minat terhadap porang di masa depan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Kata Netizen
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Kata Netizen
Mantan Menikah, Saat Undangan Pernikahan Membuka Laci Kenangan
Mantan Menikah, Saat Undangan Pernikahan Membuka Laci Kenangan
Kata Netizen
Bel Sekolah Otomatis dan Pelajaran Berharga dari Guru Berani Mencoba
Bel Sekolah Otomatis dan Pelajaran Berharga dari Guru Berani Mencoba
Kata Netizen
Perpustakaan Keliling dan Upaya Menghidupkan Budaya Baca di Sekolah
Perpustakaan Keliling dan Upaya Menghidupkan Budaya Baca di Sekolah
Kata Netizen
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Kata Netizen
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Kata Netizen
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Kata Netizen
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kata Netizen
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Kata Netizen
Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan
Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan
Kata Netizen
Lebih dari Soal Alat Tulis dan Rapuhnya Jaring Pengaman Sosial
Lebih dari Soal Alat Tulis dan Rapuhnya Jaring Pengaman Sosial
Kata Netizen
Ketika Pertanyaan Anak Menjadi Cermin Cara Dewasa Berpikir
Ketika Pertanyaan Anak Menjadi Cermin Cara Dewasa Berpikir
Kata Netizen
Alasan-alasan Kita Jarang Bertamu ke Rumah Tetangga
Alasan-alasan Kita Jarang Bertamu ke Rumah Tetangga
Kata Netizen
Satu Batik, Banyak Fungsi, dan Busana Lokal yang Tak Pernah Keliru
Satu Batik, Banyak Fungsi, dan Busana Lokal yang Tak Pernah Keliru
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau