
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Hanya memang, harus diakui bahwa sepertinya sedikit demi sedikit sikap ramah tersebut mulai tergeser oleh kekuatan gawai. Apalagi perihal "memegang" gawai sudah dilakukan sejak orang masih kanak-kanak.
Sehingga, sejak masa kanak-kanak itu sikap ramah yang terlahir dari rahim masyarakat sendiri tak lagi dialami oleh mereka secara intens. Dan, agaknya fenomena demikian ini akan terus terjadi.
Sebab, sebagian orangtua agaknya merasa nyaman saat anaknya "memegang" gawai. Karena saat mereka sibuk tak bakal terganggu oleh anaknya yang "memegang" gawai dengan kesukaannya.
Pola asuh seperti ini sering tak disadari oleh sebagian orangtua kalau berdampak negatif. Yaitu, menjauhkan anak dari sikap ramah terhadap sesama. Bahkan, dengan orangtua saja kadang tak acuh meski orangtua membutuhkan bantuannya.
Kenyataan buruk ini yang tampaknya sangat dimengerti oleh pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yang kemudian menurunkan kebijakan MPLS, seperti yang di atas sudah disebut, yaitu MPLS bertema "Ramah".
Memang sikap ramah tak boleh hilang dari diri generasi muda. Harus diperjuangkan. Dan, salah satunya dalam bentuk yang sederhana, yaitu melalui aktivitas MPLS.
Sebab, sikap ramah itu baik, terpuji, dan memiliki energi untuk dapat membangun persatuan dan kesatuan, serta kebersamaan. Sikap ramah ditandai dengan mudah bergaul, terbuka, dan dapat menerima perbedaan.
Mudah bergaul, terbuka, dan dapat menerima perbedaan merupakan ekspresi kecerdasan sosial. Itu artinya, adanya MPLS Ramah dapat memantik kecerdasan sosial.
Kecerdasan sosial memang dibutuhkan orang dalam membangun jejaring, kolaborasi, dan gotong royong sebagai modal sukses beraktivitas pada masa sekarang. Dengan begitu kecerdasan sosial tak dapat ditawar-tawar lagi. Terlebih bagi murid, yang harus mendapat asupan banyak hal melalui proses pendidikannya.
Guru, karyawan, pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), murid yang senior, bahkan petugas kantin pun perlu terlebih dahulu bersikap ramah terhadap murid baru. Sebab, sikap ramah mungkin sulit muncul dari murid baru yang masih canggung berada lingkungan baru.
Dengan demikian, MPLS Ramah mendorong setiap guru, karyawan, pengurus OSIS, murid yang senior, bahkan petugas kantin, selain memiliki kecerdasan sosial, juga harus memiliki kecerdasan emosional.
Sebab, seseorang yang mau memulai terlebih dahulu bersikap ramah terhadap orang lain, sudah pasti dalam dirinya ada kontrol emosi.
Pada poin ini kecerdasan emosional seseorang dibangun. Tak adanya perpeloncoan di MPLS, yang sudah diingatkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, misalnya, adalah bentuk nyata dorongan terhadap semua pihak yang ambil bagian dalam MPLS memiliki kontrol emosi.
Murid senior, yang terdiri atas pengurus OSIS dan murid lama, yang mendampingi murid baru dalam MPLS tak boleh bertindak semaunya. Mereka harus memperlakukan murid baru dalam suasana yang aman, nyaman, dan sejahtera.
Kalau suasana seperti itu yang dialami oleh murid baru dalam MPLS, dapatlah dikatakan bahwa MPLS Ramah telah terwujud. Dan, bukan mustahil murid baru yang menerima sikap ramah, baik secara verbal maupun perbuatan, akan terinspirasi perlakuan ramah ini.