
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Dan, ini yang menjadi harapan Kemendikdasmen, juga tentu sekolah dan orangtua, agar murid, baik murid baru maupun yang lama, memiliki sikap ramah di dalam keberlangsungan hidupnya.
Sikap ramah, seperti sudah disebut di atas, didukung oleh setidak-tidaknya dua energi positif dari dalam diri, yaitu kecerdasan sosial dan emosional.
Maka, MPLS Ramah yang disistemkan (melalui kebijakan Kemendikdasmen) merupakan cara cantik untuk merangsang lahirnya dua kecerdasan tersebut dalam diri murid.
Sekalipun harus diakui bahwa MPLS Ramah yang diadakan selama lima hari tak mungkin mampu membawa efek yang signifikan dalam membangun sikap ramah murid.
Sikap ramah dalam diri murid, tentu juga dalam diri warga sekolah secara keseluruhan, sekali lagi, memang harus terus diperjuangkan.
Penyisteman membangun sikap ramah melalui MPLS hanya sekadar pemantik. Artinya, kalau aktivitas MPLS Ramah yang dilaksanakan selama lima hari rampung harus dilanjutkan dengan pembangunan sikap ramah dalam keseharian murid.
Karenanya, diperlukan kemauan gigih sekolah dan orangtua/wali untuk memiliki kesetiaan menjaga pembangunan sikap ramah bagi murid. Di sekolah, guru menjadi pembimbing dan pendampingnya, sedangkan di rumah, orangtua/wali menjadi pembimbing dan pendampingnya.
Sikap ramah yang dapat memantik tumbuhnya kecerdasan sosial dan emosional anak akan terus mengalami perkembangan secara optimal. Bahkan, bukan mustahil melalui sikap ramah akan memunculkan kecerdasan atau karakter lain yang positif dalam diri murid.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "MPLS Ramah Memantik Kecerdasan Sosial dan Emosional Murid"
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang