
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Pekan pertama pada kembalinya siswa-siswa masuk sekolah adalah ditandai dengan adanya kegiatan MPLS atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.
Nah, yang berbeda pada tahun ajaran 2025/2026 adalah pelaksanaannya dilakukan selama 5 hari --sebelumnya hanya 3 hari saja.
Berbeda dengan tahun-tahun ajaran sebelumnya, yaitu hanya tiga hari. Disediakan waktu lima hari, sekurang-kurangnya, bertujuan agar murid baru memiliki waktu yang lebih leluasa untuk mengenal sekolah barunya.
Tak sekadar mengenal kondisi fisik sekolah, misalnya, gedung dan ruang yang ada serta fungsi-fungsinya, lingkungan, sarana belajar, aktivitas, guru, karyawan, dan murid, baik yang baru maupun yang lama.
Tapi, juga mengenal atmosfer sekolah. Yang, meliputi kebiasaan guru dan karyawan, kebiasaan murid, relasi warga sekolah, keterlibatan orangtua dan masyarakat di sekolah, serta pengelolaan sarana prasarana sekolah.
Dulu, MPLS lebih banyak mengenalkan murid kepada hal-hal fisik. Murid, misalnya, ditunjukkan ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang guru, toilet, dan kebun sekolah. Murid diajak bersama melihat dan memasuki ruang atau lokasi tersebut.
Juga, mengenalkan guru dan mata pelajaran (mapel) yang diajarkan dan mengenalkan karyawan sekolah. Bahkan, murid biasanya diminta untuk mencatatnya di buku. Sekaligus meminta tanda tangannya.
Tentu saja murid dalam MPLS diarahkan seperti gambaran di atas tak salah . Benar dan sah adanya. Toh yang demikian ini akhirnya menjadikan murid mengenal guru dan karyawan sekolah, tempat mereka belajar.
Murid pun tak tersesat, misalnya, diminta oleh guru berkunjung ke perpustakaan saat jam kunjungan perpustakaan. Mereka dapat sampai di lokasi perpustakaan tepat arah.
Pengenalan seperti telah disebut di atas pada MPLS tahun ajaran 2025/2026 pun masih tetap diizinkan. Sebab, penting bagi murid untuk mengenal hal-hal fisik yang ada di sekolah. Sekalipun kalau tak diadakan sesi pengenalan kepada guru, misalnya, murid akan tetap memiliki kesempatan untuk mengenal guru.
Pun demikian kalau murid tak ditunjukkan ruang laboratorium pada saat MPLS, misalnya, mereka akan mengetahuinya sendiri. Saat mereka sudah mulai efektif masuk sekolah, bahkan akan mengenal dan mengetahui lebih banyak lagi, baik secara langsung maupun tak langsung.
Karenanya, MPLS yang bertema "Ramah" pada tahun ajaran 2025/2026, sejatinya tak sepenuhnya mengarahkan murid mengenal hal-hal fisik di sekolah. Tapi, yang lebih daripada itu mengarahkan murid mengenal hal-hal nonfisik.
Sikap ramah, tergolong aspek nonfisik, pernah ditahbiskan sebagai salah satu ciri masyarakat Indonesia. Dan, hal ini diakui oleh siapa pun. Bahkan, warga masyarakat dunia mengakuinya.
Tapi, apakah pengakuan tersebut masih ada jika dikaitkan dengan keberadaan masyarakat Indonesia sekarang? Tentu kita berharap pengakuan tersebut masih ada.
Sebab, sikap ramah merupakan sikap yang tumbuh dari jiwa para leluhur. Yang, terus terjaga, hidup, dan dihidupi oleh masyarakat secara turun-temurun.