Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sungkowo
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Sungkowo adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Selain "Ramah", Apa yang Dibutuhkan Siswa Baru saat MPLS?

Kompas.com, 18 Juli 2025, 15:48 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Pekan pertama pada kembalinya siswa-siswa masuk sekolah adalah ditandai dengan adanya kegiatan MPLS atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.

Nah, yang berbeda pada tahun ajaran 2025/2026 adalah pelaksanaannya dilakukan selama 5 hari --sebelumnya hanya 3 hari saja.

Berbeda dengan tahun-tahun ajaran sebelumnya, yaitu hanya tiga hari. Disediakan waktu lima hari, sekurang-kurangnya, bertujuan agar murid baru memiliki waktu yang lebih leluasa untuk mengenal sekolah barunya.

Tak sekadar mengenal kondisi fisik sekolah, misalnya, gedung dan ruang yang ada serta fungsi-fungsinya, lingkungan, sarana belajar, aktivitas, guru, karyawan, dan murid, baik yang baru maupun yang lama.

Tapi, juga mengenal atmosfer sekolah. Yang, meliputi kebiasaan guru dan karyawan, kebiasaan murid, relasi warga sekolah, keterlibatan orangtua dan masyarakat di sekolah, serta pengelolaan sarana prasarana sekolah.

Dulu, MPLS lebih banyak mengenalkan murid kepada hal-hal fisik. Murid, misalnya, ditunjukkan ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang guru, toilet, dan kebun sekolah. Murid diajak bersama melihat dan memasuki ruang atau lokasi tersebut.

Juga, mengenalkan guru dan mata pelajaran (mapel) yang diajarkan dan mengenalkan karyawan sekolah. Bahkan, murid biasanya diminta untuk mencatatnya di buku. Sekaligus meminta tanda tangannya.

Tentu saja murid dalam MPLS diarahkan seperti gambaran di atas tak salah . Benar dan sah adanya. Toh yang demikian ini akhirnya menjadikan murid mengenal guru dan karyawan sekolah, tempat mereka belajar.

Murid pun tak tersesat, misalnya, diminta oleh guru berkunjung ke perpustakaan saat jam kunjungan perpustakaan. Mereka dapat sampai di lokasi perpustakaan tepat arah.

Pengenalan seperti telah disebut di atas pada MPLS tahun ajaran 2025/2026 pun masih tetap diizinkan. Sebab, penting bagi murid untuk mengenal hal-hal fisik yang ada di sekolah. Sekalipun kalau tak diadakan sesi pengenalan kepada guru, misalnya, murid akan tetap memiliki kesempatan untuk mengenal guru.

Pun demikian kalau murid tak ditunjukkan ruang laboratorium pada saat MPLS, misalnya, mereka akan mengetahuinya sendiri. Saat mereka sudah mulai efektif masuk sekolah, bahkan akan mengenal dan mengetahui lebih banyak lagi, baik secara langsung maupun tak langsung.

Karenanya, MPLS yang bertema "Ramah" pada tahun ajaran 2025/2026, sejatinya tak sepenuhnya mengarahkan murid mengenal hal-hal fisik di sekolah. Tapi, yang lebih daripada itu mengarahkan murid mengenal hal-hal nonfisik.

Sikap ramah, tergolong aspek nonfisik, pernah ditahbiskan sebagai salah satu ciri masyarakat Indonesia. Dan, hal ini diakui oleh siapa pun. Bahkan, warga masyarakat dunia mengakuinya.

Tapi, apakah pengakuan tersebut masih ada jika dikaitkan dengan keberadaan masyarakat Indonesia sekarang? Tentu kita berharap pengakuan tersebut masih ada.

Sebab, sikap ramah merupakan sikap yang tumbuh dari jiwa para leluhur. Yang, terus terjaga, hidup, dan dihidupi oleh masyarakat secara turun-temurun.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau