
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ketika saya datang, hanya ada beberapa pengunjung. Mungkin karena itu saya mudah mendapatkan kursi bersekat.
Banyaknya stop kontak di berbagai titik membuat pengalaman bekerja di sini terasa semakin menyenangkan.
Di dinding, terpajang gambar tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Kartini, dan beberapa tokoh lain. Ada pula kutipan-kutipan inspiratif dan patung dari berbagai daerah, menambah sentuhan etnik yang hangat.
Tentu saja, yang paling penting tetaplah koleksi bukunya. Jumlahnya tidak terlalu besar, tetapi sangat menarik.
Perpustakaan ini awalnya hanya memiliki sekitar 4.000 buku—semua koleksi pribadi Rizal Mallarangeng. Koleksi itu berkembang menjadi 8.000, dan kini mencapai sekitar 14.000 buku.
Pilihan bukunya beragam: filsafat, hukum, sejarah, bahasa, sastra, sosial, ekonomi, agama, hingga hubungan internasional. Koleksi berbahasa asing pun tersedia. Semuanya ditata rapi sesuai tema.
Rak sejarah dan sastra langsung menjadi favorit saya. Di sana saya menemukan banyak nama besar: N.H. Dini, Putu Wijaya, Pramoedya Ananta Toer, Budi Darma, Y.B. Mangunwijaya, Sitor Situmorang, Ahmad Tohari, dan banyak lagi.
Buku-buku populer seperti Supernova, Negeri 5 Menara, karya Ayu Utami, hingga Leila S. Chudori juga ada. Bahkan koleksi kecil seperti kumpulan cerpen Dunia di Dalam Mata—yang jarang saya dengar gaungnya—ikut terselip di rak.
Rasanya seperti membaca daftar isi rak buku saya sendiri. Seolah-olah perpustakaan ini punya selera baca yang sangat mirip dengan saya. Selain buku, tersedia pula jurnal dan koran terbaru.
Meski koleksinya tidak sebanyak perpustakaan besar, justru kurasinya terasa pas dan menyenangkan. Semua terlihat menarik, membuat pengunjung betah berlama-lama.
Fasilitas yang Tersedia
Perpustakaan ini menyediakan jaringan Wi-Fi yang cukup baik—mungkin karena saat saya datang tidak terlalu ramai. Layanan fotokopinya juga terjangkau, sekitar Rp175 per lembar.
Toilet menggunakan fasilitas gedung Wisma Bakrie yang letaknya sangat dekat. Mushola berada di depan meja pendaftaran. Meski sederhana, cukup memenuhi kebutuhan pengunjung. Tempat wudhu berada di toilet yang sama.
Biasanya saya datang sambil membawa bekal. Karena tidak ada ruang makan khusus, saya memakannya di taman umum tepat di depan perpustakaan.
Kalau pun tidak membawa bekal, banyak penjual makanan di sekitar area gedung dengan harga terjangkau—lumrah untuk kawasan perkantoran.