Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rifki Feriandi
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Rifki Feriandi adalah seorang yang berprofesi sebagai Relawan. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Di Balik Medali Emas Patricia Geraldine di SEA Games 2025

Kompas.com, 18 Desember 2025, 12:41 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Tentang Medali Emas dan Sisi Manusiawi yang Jarang Terlihat 

Sea Games, Thailand, 2025 masih berlangsung. Indonesia untuk sementara menempati urutan ke dua perolehan medali dengan 67 emas, 75 perak dan 76 perunggu (data 17 Desember, pukul 13:46). Melebihi target dari urutan 3.

Dan, salah satu olahraga penyumbang banyak medali emas adalah cabang wushu. Ya, cabang ini meraup 5 emas, melebihi target 3 medali, mengantarkan Indonesia menjadi Juara Umum di cabang wushu di Sea Games 2025 ini.

Salah satu penyumbang medali emas wushu itu adalah seorang gadis berparas ayu, Patricia Geraldine.

Patricia Geraldine menggaet emas untuk nomor taolu, gabungan jurus changquan, jianshu, dan qiangshu.

Ditemui di sekitaran BSD bersama kedua orang tuanya dan adik bungsunya, Patrice terlihat sumringah meski gurat-gurat kelelahan masih terlihat di wajahnya. Iya, pertandingan yang dilewati begitu menegangkan. Intens.  

Tidak salah jika yang pertama terpikir olehnya saat dikalungin medali di podium itu adalah pengen langsung pulang.

"Terus rebahan. Istirahat", begitu ujarnya.

Tapi tentu saja perasaan campur aduk dia rasakan dan diungkapkan.

"Lega, bangga, nangis, sama pengen pulang", sambungnya dengan malu-malu. Dia bercerita bagaimana begitu bangganya dia ketika memenangkan pertandingan, karena ini adalah keikutsertaan pertama dia di ajang olahraga multi event internasional.

Meski dia beberapa kali menjuarai turnamen-turnamen wushu, termasuk internasional , tetap saja ada kebanggaan lebih ketika bisa mengharumkan nama bangsa sendiri. 

"Bangga banget. Nangis paling kenceng justru setelah selesai bertanding. Tiga hari berturut-turut bertanding, lelah sama tegang.Deg-degan", kata dia.

Kelelahan dan ketegangan yang sedikit demi sedikit menguap ketika dia sudah kembali ke rumahnya di Jakarta dan bertemu papih-mamih serta saudara-saudaranya. Ya, atlet itu manusia biasa, dan keluarga adalah  tempat kembali dan meraih ketenangan hati dan jiwa. 

Kebayang tiga hari berturut-turut, memainkan tiga jurus yang biasanya terpisah dan mendapat masing-masing medali, sekarang digabung jadi satu.

Keputusan panitia Sea Games Thailand ini membuat tekanan makin besar, karena atlet dituntut untuk perform menghasilkan nilai tinggi di tiap jurus. 

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau