
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Dan menangis. Seolah dia sedang menunjukkan sisi humanis seorang juara, bahwa dia seorang manusia biasa.
Patricia Geraldine adalah seorang anak. Dia menempatkan mamih papihnya sebagai pelabuhan, sebagai tempat yang aman di mana dia tidak perlu berpura-pura kuat. Di depan orang tuanya, dia menjadi diri sendiri, bukan sebagai seorang peraih medali emas, atau juara pertandingan tingkat dunia sekali pun.
So sweet.
Demikian juga ketika menjawab pertanyaan tentang hal-hal yang harus dikorbankan untuk meraih apa yang diusahakan sebagai atlet. Ternyata bukan hal-hal yang sophisticated yang dia korbankan, melainkan hal-hal yang sepele. Tentu lah kalau kehilangan waktu bermain sepertinya bisa dia atasi, dengan membuat keseruan sendiri dengan teman-teman sepelatihan. Tapi, yang menurutnya dia korbankan adalah:
"Gak bisa ikutan kerja kelompok, karena harus latihan".
Terbayang anak-anak seusianya yang justru sedang berusaha menghindari kerja kelompok, tapi ternyata hal-hal yang seperti itu, momen-momen melelahkan seorang pelajar, justru menjadi hal-hal alamiah yang Patrice rindukan. Hal seperti itu menjadi kemewahan yang dia tidak bisa beli. Seperti juga ujian sekolah barengan. Dia rindukan.
Ternyata pengorbanan terbesar seorang pahlawan olahraga itu bukan soal keringat atau darah, melainkan kehilangan "normalitas".
Dan di sinilah mamih papihnya memegang peranan dan tetap selalu mendampinginya. Termasuk dengan sering membuka obrolan tentang pendidikan, baik sekarang atau ke depannya agar setelah tidak aktif sebagai atlet, dia mandiri dan tetap menjadi seorang pribadi yang berhasil dalam kehidupannya. Patrice sekarang sedang menjalani perkuliahan S2 di bidang Bisnis di Binus University.
***
Sebenarnya masih ada hal lain yang saya ingin tahu lebih banyak. Tetapi dia dan ibunya ada urusan lain yang perlu kehadiran mereka.
Hal itu tidak sempat ditanyakan karena ya kita cenderung ngobrol, tidak seperti berbentuk wawancara, termasuk obrolan ringan tentang hadiah uang yang dia terima dan rencana penggunaan hadiah itu.
Namun demikian, saya kirimkan satu pertanyaan melalui pesan whatsapps untuk dia jawab saja ketika dia senggang. Pertanyaannya adalah:
"Kalau Patrice ketemu diri Patrice waktu masih kecil dulu, apa yang mau Patrice katakan ke dia?"
Dan jawaban dia singkat, sederhana tapi sangat menyentuh.
"Hai Pat kecil. Jangan takut ya. Jalani aja semuanya. You can do it".