
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Kedai ini tak pernah benar-benar sepi. Anak muda hingga orang tua silih berganti datang. Dari obrolan singkat dengan penyaji, saya tahu bahwa Mie Kondang ini sudah ada sejak era 1980-an dan hanya buka hingga pukul dua siang. Tak heran jika banyak yang datang pagi-pagi.
Usai makan, perhatian Ibu tertuju pada sebuah tempat yang berdampingan dengan kedai mie tersebut: Jakarta Foto. Seketika, wajahnya berbinar. Tempat itu rupanya menyimpan kenangan lama.
“Masih ada, ya. Dulu kalau mau cetak foto Kakak, Ibu selalu ke sini,” katanya, mengenang era 1990-an, ketika mencetak foto masih menjadi momen istimewa. Jakarta Foto kala itu bukan sekadar tempat cetak, tetapi juga studio sederhana lengkap dengan properti.
Kami hanya mengintip dari luar, tetapi nuansa tahun 90-an masih terasa kuat dari foto-foto yang terpajang.
Bagi yang ingin berkunjung, lokasi Mie Kondang dan Jakarta Foto ini sangat mudah dijangkau. Tepat di dekat tangga Stasiun MRT Blok A, cukup ketik “Mie Kondang Blok A” di peta digital.
Menikmati Taichan di Bawah Pohon dan Flyover
Malam harinya, perjalanan kuliner berlanjut ke kawasan Senayan Simprug. Tujuannya satu: sate taichan yang pernah viral saat masa pandemi, meski sejatinya sudah ada jauh sebelum itu. Bahkan, saya sudah mengenalnya sejak sekitar 2016.
Bersama rekan, kami memesan taichan kulit dan taichan campur. Pilihannya jelas: daging, kulit, atau campuran. Fleksibel, sesuai selera. Sepiring sate datang bersama lontong, sambal, bubuk kaldu, jeruk nipis, dan bawang goreng.
Tak sulit memahami mengapa sate taichan ini begitu populer. Sambalnya memiliki karakter khas—gurih, pedasnya bersahabat, dan tidak pelit. Bebas nambah.
Meski begitu, sejak semakin viral, tingkat kepedasan sedikit meningkat mengikuti permintaan pelanggan.
Selain sambal, keistimewaan lainnya terletak pada daging dan proses pembakarannya. Daging dimarinasi dengan bumbu rahasia sebelum dibakar, dan selama proses pembakaran terus diolesi bumbu yang sama. Hasilnya, sate terasa juicy dengan rasa yang meresap hingga ke dalam.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana tempat ini berkembang. Dari masa awal ketika pemiliknya langsung melayani pelanggan, hingga kini dengan beberapa karyawan. Namun, satu hal tak berubah: pelayanannya tetap ramah dan cekatan.
Suasana makannya pun unik. Meja-meja sederhana berada tepat di bawah flyover dan di bawah rindangnya pohon. Aneh tapi nyata, suasananya justru tenang dan membuat betah. Tak heran jika banyak yang menyebutnya sebagai seni bersantap di bawah pohon dan flyover.
Dengan harga Rp20.000 per porsi sate dan tambahan Rp5.000 untuk lontong, tempat ini terasa ramah di kantong. A
neka minuman dan jajanan ringan pun tersedia dengan harga terjangkau. Lokasinya di Jalan Patal Senayan Simprug, tepat di bawah Flyover Permata Hijau, buka selepas magrib.