
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Wilayah pegunungan seperti Tana Toraja dikenal memiliki intensitas hujan tinggi dan angin kencang.
Dalam kondisi tersebut, genteng justru dapat memperbesar risiko kebocoran. Kelembapan yang tinggi juga mempercepat pertumbuhan lumut pada genteng tanah liat. Jika dibiarkan, lumut dapat merusak struktur genteng dan membuatnya rapuh.
Tanah Gambut dan Fondasi Ringan
Sebagian wilayah di Kalimantan dan Sumatera memiliki karakteristik tanah gambut yang lunak dan kurang stabil. Bangunan di atas tanah seperti ini umumnya dirancang seringan mungkin agar tidak mengalami penurunan atau amblas.
Genteng tanah liat yang berat berpotensi membebani fondasi secara berlebihan. Karena itu, masyarakat di wilayah rawa dan lahan gambut lebih banyak memilih atap logam atau sirap kayu yang jauh lebih ringan dan sesuai dengan kondisi tanah.
Kearifan Lokal dan Identitas Arsitektur
Selain faktor teknis, ada pula dimensi kearifan lokal yang patut diperhatikan. Penggunaan genteng secara massal untuk menggantikan berbagai jenis atap tradisional dapat mengabaikan nilai arsitektur lokal.
Sebagai contoh, rumah adat Tongkonan di Toraja memiliki bentuk atap melengkung khas dengan kemiringan tajam. Struktur tersebut secara tradisional menggunakan bahan seperti bambu atau material lokal lainnya yang telah teruji oleh waktu.
Mengganti atap Tongkonan dengan genteng tidak hanya kurang sesuai secara teknis, tetapi juga menghilangkan makna budaya yang melekat.
Adaptasi terhadap Alam
Pada akhirnya, memilih atap bukan sekadar mengikuti tren atau preferensi visual. Ia adalah bentuk adaptasi terhadap kondisi alam setempat.
Genteng tanah liat memang memiliki keunggulan, seperti memberikan efek sejuk dan tampilan klasik.
Namun di wilayah rawan bencana, tanah lunak, atau iklim ekstrem, aspek keselamatan dan kesesuaian struktur perlu menjadi prioritas utama.
Indonesia adalah negara kepulauan dengan keragaman kondisi geografis yang luar biasa. Karena itu, pendekatan yang seragam belum tentu menjadi solusi terbaik.
Justru keberagaman material dan desain atap yang menyesuaikan karakter wilayah dapat menjadi wujud arsitektur yang bijak.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tak Semua Wilayah Indonesia Cocok dengan Genteng"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang