Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ronny Rachman Noor
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Hubungan Autophagy dengan Puasa

Kompas.com, 23 Februari 2026, 10:17 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah puasa hanya berdimensi spiritual atau di baliknya tersimpan mekanisme biologis yang juga menyehatkan tubuh?

Bagi umat Islam, puasa merupakan kewajiban sekaligus bentuk ibadah yang mencerminkan ketakwaan kepada Allah SWT. Setiap bulan Ramadan, umat Muslim menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga terbenam matahari sebagai wujud ketaatan dan latihan pengendalian diri.

Namun di balik perintah tersebut, terdapat pula manfaat kesehatan yang menarik untuk dicermati dari sudut pandang ilmiah.

Salah satu konsep yang belakangan banyak dibahas dalam dunia medis adalah autophagy. Keterkaitan antara puasa dan autophagy memang belum banyak dipahami secara luas. Karena itu, tulisan ini mencoba menjelaskan hubungan keduanya secara ringkas dan proporsional.

Secara sederhana, autophagy adalah proses alami tubuh untuk “mendaur ulang” komponen sel yang rusak atau menurun fungsinya. Istilah ini mulai dikenal dalam bidang kesehatan dan genetika pada era 1960an.

Autophagy memungkinkan sel menghancurkan protein yang rusak, organel yang tidak lagi berfungsi optimal, serta patogen tertentu, sehingga membantu menjaga keseimbangan dan kesehatan sel serta mencegah penumpukan zat yang tidak diperlukan.

Pada dekade 1970an, para peneliti mulai memahami mekanisme autophagy, termasuk peran hormon seperti glukagon yang dapat memicunya. Diketahui pula bahwa asam amino tertentu justru menghambat proses ini.

Penelitian yang lebih mendalam dilakukan oleh ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, yang sejak tahun 1990an meneliti mekanisme autophagy secara detail. Atas kontribusinya tersebut, ia dianugerahi Hadiah Nobel di bidang Fisiologi atau Kedokteran.

Hubungan Autophagy dengan Puasa

Secara ilmiah, puasa dipandang sebagai salah satu pemicu autophagy yang efektif. Ketika tubuh tidak menerima asupan energi dari luar, terjadi perubahan prioritas metabolisme.

Energi yang sebelumnya digunakan untuk pertumbuhan dan penyimpanan akan dialihkan pada proses perbaikan serta daur ulang sel.

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa autophagy mulai meningkat setelah tubuh berpuasa dalam rentang waktu tertentu.

Pada fase ini, kadar insulin dan glukosa menurun. Penurunan tersebut menjadi sinyal bagi tubuh untuk mulai memanfaatkan dan mendaur ulang komponen sel yang rusak sebagai sumber energi alternatif.

Dalam konteks kesehatan, proses ini memberikan sejumlah manfaat. Pembersihan sel-sel yang rusak termasuk mitokondria yang tidak lagi optimal dan protein yang salah lipat dikaitkan dengan penurunan risiko berbagai penyakit yang berkaitan dengan penuaan. Dengan berkurangnya stres dan peradangan pada tingkat seluler, kesehatan secara umum dapat lebih terjaga.

Puasa juga diketahui dapat meningkatkan hormon pertumbuhan secara sementara, yang berperan dalam menjaga massa otot tetap sehat.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau