Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Siska Fajarrany
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Siska Fajarrany adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu

Kompas.com, 23 Februari 2026, 13:33 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Mengapa sepiring lauk yang tampak sempurna di etalase warung makan tak pernah benar-benar mampu menggantikan rasa masakan Ibu? Apakah yang kita rindukan sesungguhnya adalah bumbunya, atau kehangatan yang menyertainya?

Di balik etalase kaca sebuah warung makan di sudut gang perantauan, aneka lauk tersaji di bawah cahaya lampu kuning yang temaram.

Ada sayur lodeh dengan potongan nangka muda yang empuk, sambal goreng kentang yang merah menggoda, hingga ayam goreng lengkuas yang aromanya menguar hangat.

Menjelang waktu berbuka, tempat seperti ini menjadi titik temu bagi banyak jiwa yang lelah—para perantau yang menggenggam bungkusan plastik berisi nasi hangat, berharap menemukan sedikit penghiburan setelah seharian menahan lapar.

Saya adalah salah satunya. Berdiri menatap deretan menu yang begitu akrab di lidah, tetapi entah mengapa terasa asing di hati. Saya memesan menu yang hampir serupa dengan yang biasa tersaji di rumah: sayur lodeh dan sedikit sambal terasi.

Namun ketika bungkusan itu dibuka di kamar kos yang sunyi, dan suapan pertama masuk ke mulut, ada kenyataan yang lebih dulu terasa pahit daripada makanan itu sendiri. Bahwa sejauh apa pun saya mencari, rasa masakan Ibu adalah sesuatu yang tak pernah bisa sepenuhnya ditiru.

Kegagalan menemukan “rasa rumah” di perantauan bukan sekadar soal bumbu. Secara teknis, mungkin santan di warteg lebih kental, cabainya lebih berani, atau rempahnya lebih lengkap. Tetapi ada satu unsur yang tak kasatmata sentuhan tangan yang memasak dengan doa dan perhatian.

Ibu memasak sambil membayangkan siapa yang akan menyantapnya. Ada kehangatan yang seolah merambat dari jemarinya ke dalam uap sayur yang mendidih.

Itulah sebabnya, ketika saya mencoba meniru resepnya di atas kompor kecil di sudut kamar, hasilnya selalu terasa berbeda. Bukan semata karena takaran bumbu, melainkan karena ada jiwa yang tak bisa direplikasi.

Ramadan di perantauan memiliki cara tersendiri untuk mempertajam rindu itu. Saat azan Magrib berkumandang, suara kota seakan berubah menjadi pemanggil kenangan.

Saya teringat suasana beberapa menit sebelum berbuka di rumah: suara piring yang bersentuhan, obrolan ringan di meja makan, dan Ibu yang sibuk memastikan setiap orang mendapat bagian terbaik.

Di kamar kos, semua itu tergantikan oleh suara plastik mika yang dibuka perlahan. Keheningan menjadi teman berbuka. Dalam sunyi, lidah justru terasa lebih peka—membandingkan, menilai, bahkan mengkritik.

Terlalu banyak penyedap, kurang gula, atau bumbu yang belum meresap sempurna. Padahal, kritik-kritik kecil itu sering kali hanya cara kita menahan rindu yang tak terucap.

Mengapa rasa ini tak bisa membawa saya kembali ke masa kecil? Mengapa sepiring lauk tak mampu menyembuhkan lelahnya menjadi dewasa di tanah orang?

Setiap sore selama Ramadan, ada harapan kecil yang menyertai langkah ke warung makan: mungkin kali ini rasanya mirip. Namun kekecewaan kecil itu justru membuka pemahaman yang lebih dalam tentang makna pulang.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau