
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Mengapa sepiring lauk yang tampak sempurna di etalase warung makan tak pernah benar-benar mampu menggantikan rasa masakan Ibu? Apakah yang kita rindukan sesungguhnya adalah bumbunya, atau kehangatan yang menyertainya?
Di balik etalase kaca sebuah warung makan di sudut gang perantauan, aneka lauk tersaji di bawah cahaya lampu kuning yang temaram.
Ada sayur lodeh dengan potongan nangka muda yang empuk, sambal goreng kentang yang merah menggoda, hingga ayam goreng lengkuas yang aromanya menguar hangat.
Menjelang waktu berbuka, tempat seperti ini menjadi titik temu bagi banyak jiwa yang lelah—para perantau yang menggenggam bungkusan plastik berisi nasi hangat, berharap menemukan sedikit penghiburan setelah seharian menahan lapar.
Saya adalah salah satunya. Berdiri menatap deretan menu yang begitu akrab di lidah, tetapi entah mengapa terasa asing di hati. Saya memesan menu yang hampir serupa dengan yang biasa tersaji di rumah: sayur lodeh dan sedikit sambal terasi.
Namun ketika bungkusan itu dibuka di kamar kos yang sunyi, dan suapan pertama masuk ke mulut, ada kenyataan yang lebih dulu terasa pahit daripada makanan itu sendiri. Bahwa sejauh apa pun saya mencari, rasa masakan Ibu adalah sesuatu yang tak pernah bisa sepenuhnya ditiru.
Kegagalan menemukan “rasa rumah” di perantauan bukan sekadar soal bumbu. Secara teknis, mungkin santan di warteg lebih kental, cabainya lebih berani, atau rempahnya lebih lengkap. Tetapi ada satu unsur yang tak kasatmata sentuhan tangan yang memasak dengan doa dan perhatian.
Ibu memasak sambil membayangkan siapa yang akan menyantapnya. Ada kehangatan yang seolah merambat dari jemarinya ke dalam uap sayur yang mendidih.
Itulah sebabnya, ketika saya mencoba meniru resepnya di atas kompor kecil di sudut kamar, hasilnya selalu terasa berbeda. Bukan semata karena takaran bumbu, melainkan karena ada jiwa yang tak bisa direplikasi.
Ramadan di perantauan memiliki cara tersendiri untuk mempertajam rindu itu. Saat azan Magrib berkumandang, suara kota seakan berubah menjadi pemanggil kenangan.
Saya teringat suasana beberapa menit sebelum berbuka di rumah: suara piring yang bersentuhan, obrolan ringan di meja makan, dan Ibu yang sibuk memastikan setiap orang mendapat bagian terbaik.
Di kamar kos, semua itu tergantikan oleh suara plastik mika yang dibuka perlahan. Keheningan menjadi teman berbuka. Dalam sunyi, lidah justru terasa lebih peka—membandingkan, menilai, bahkan mengkritik.
Terlalu banyak penyedap, kurang gula, atau bumbu yang belum meresap sempurna. Padahal, kritik-kritik kecil itu sering kali hanya cara kita menahan rindu yang tak terucap.
Mengapa rasa ini tak bisa membawa saya kembali ke masa kecil? Mengapa sepiring lauk tak mampu menyembuhkan lelahnya menjadi dewasa di tanah orang?
Setiap sore selama Ramadan, ada harapan kecil yang menyertai langkah ke warung makan: mungkin kali ini rasanya mirip. Namun kekecewaan kecil itu justru membuka pemahaman yang lebih dalam tentang makna pulang.