
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Kita merasa sudah mampu untuk mendaftar haji, tetapi justru terus menundanya karena berbagai pertimbangan duniawi. Mungkin, tanpa sadar, niat yang dulu begitu kuat perlahan tertahan oleh rasa “nanti saja” yang terus berulang
Gema azan subuh di ufuk timur selalu menghadirkan getaran yang berbeda dalam hati saya. Sejak kecil, orangtua menanamkan pemahaman bahwa rukun Islam kelima bukan sekadar ibadah, melainkan sebuah panggilan suci yang perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.
Dari situlah cita-cita untuk menunaikan ibadah haji tumbuh perlahan dalam diri saya. Saya memahami bahwa haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan batin yang membutuhkan kesiapan lahir dan batin.
Orangtua saya sering berpesan bahwa kemampuan untuk berhaji tidak hanya diukur dari banyaknya harta. Kemampuan juga berarti kesiapan fisik, kesehatan, dan terutama kelurusan niat untuk benar-benar memenuhi panggilan Allah SWT.
Pesan itu terus melekat hingga dewasa.
Membangun Niat Sejak Gaji Pertama
Perjalanan panjang ini dimulai pada tahun 1997, ketika saya mulai bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Saat itu, muncul keinginan kuat untuk mewujudkan mimpi yang selama ini hanya tersimpan dalam doa-doa.
Saya memiliki prinsip sederhana: jika suatu hari bisa berhaji, saya ingin berangkat dari hasil kerja sendiri yang halal.
Sejak saat itu, menabung menjadi kebiasaan yang saya jaga. Jumlahnya memang tidak selalu besar, tetapi setiap rupiah yang disisihkan terasa seperti bagian dari ikhtiar menuju Baitullah.
Waktu berjalan perlahan. Tabungan haji bertambah sedikit demi sedikit, bersamaan dengan proses pendewasaan diri. Saya mulai belajar menahan keinginan konsumtif dan lebih berhati-hati dalam mengatur prioritas keuangan. Fokus saya saat itu hanya satu, yaitu mengumpulkan dana pendaftaran haji.
Pada tahun 2002, saya menikah. Dalam perjalanan rumah tangga yang baru dimulai, niat untuk berhaji justru terasa semakin kuat. Saya dan istri sepakat untuk menjadikan impian ini sebagai cita-cita bersama.
Dukungan istri menjadi energi besar bagi saya. Kami mulai menyisihkan sebagian penghasilan demi mempercepat langkah menuju Tanah Suci. Di tengah berbagai kebutuhan rumah tangga, kami tetap berusaha menjaga komitmen itu.
Kehadiran anak pertama pada tahun 2003 membawa kebahagiaan tersendiri. Tanggung jawab memang bertambah, tetapi semangat untuk berhaji tidak pernah benar-benar padam. Kami percaya bahwa setiap anak membawa rezekinya masing-masing.
Saat Penundaan Datang Diam-diam
Tahun demi tahun berlalu. Anak kedua lahir pada 2008, lalu anak ketiga pada 2012. Kondisi ekonomi keluarga mulai terasa lebih stabil. Secara hitungan matematis, sebenarnya dana pendaftaran haji sudah mencukupi.