
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Meski demikian, saya mencoba menerima semuanya dengan lapang hati. Penyesalan memang datang belakangan, tetapi setidaknya kami sudah berada dalam barisan orang-orang yang sedang menanti panggilan Allah SWT.
Kini, lembar bukti pendaftaran itu menjadi salah satu dokumen paling berharga di rumah kami. Bukan hanya karena nilainya secara administratif, tetapi karena ia menjadi simbol perjalanan panjang tentang niat, kesabaran, dan keberanian mengambil keputusan.
Menunggu Sambil Memantaskan Diri
Bagi saya, menunggu keberangkatan hingga tahun 2031 bukan sekadar soal menanti waktu. Masa tunggu ini justru menjadi kesempatan untuk terus memperbaiki diri.
Saya mulai memahami bahwa menjadi tamu Allah bukan hanya soal mampu secara finansial, tetapi juga tentang mempersiapkan hati, menjaga kesehatan, memperbaiki ibadah, dan memperdalam ilmu manasik.
Di tengah keseharian, pikiran saya kadang melayang membayangkan suasana Tanah Suci. Saya membayangkan berjalan bersama istri mengenakan ihram, melantunkan talbiyah di antara jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia.
Mimpi yang mulai saya bangun sejak tahun 1997 itu kini terasa lebih nyata.
Menjelang bulan Dzulhijjah tahun 2026 ini, suasana spiritual di sekitar juga terasa semakin hidup. Melihat tetangga dan kerabat bersiap berangkat haji menghadirkan rasa haru sekaligus motivasi untuk terus menjaga niat.
Kini saya tidak lagi terlalu sibuk meratapi keterlambatan mendaftar. Saya lebih memilih bersyukur karena Allah SWT masih memberi kesempatan untuk berada dalam antrean tamu-Nya.
Saya percaya, setiap orang memiliki waktu terbaiknya masing-masing.
Tentang Niat dan Keberanian Memulai
Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa niat yang baik perlu dijaga dengan tindakan nyata. Perhitungan materi memang penting sebagai bagian dari ikhtiar, tetapi jangan sampai membuat langkah terus tertunda.
Kadang, yang paling berat bukan mengumpulkan biaya, melainkan melawan rasa “nanti saja” yang terasa aman, tetapi diam-diam menjauhkan kita dari kesempatan.
Haji memang panggilan Allah SWT. Namun, keberanian untuk memulai ikhtiar tetap menjadi bagian dari tanggung jawab manusia.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga niat kita, memberi kesehatan lahir dan batin, serta memudahkan langkah siapa pun yang sedang berusaha menjemput panggilan menuju Baitullah.
Dan semoga, ketika waktunya tiba nanti, kita semua dapat memenuhi panggilan itu dengan hati yang lebih siap, lebih tenang, dan lebih bersyukur.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menjemput Haji: Saat Getar Niat Menang Melawan Kalkulasi Angka dan Jebakan Penundaan"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang