
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Namun justru di titik itulah ujian yang sebenarnya muncul.
Kami belum juga mendaftar.
Ada saja alasan untuk menunda. Mulai dari kebutuhan keluarga, pekerjaan, hingga rencana renovasi rumah yang terasa lebih mendesak saat itu. Tanpa sadar, perhitungan angka dan berbagai urusan dunia perlahan menggeser getar niat yang dulu begitu kuat.
Saya sempat berpikir, mendaftar tahun depan mungkin tidak akan berbeda jauh. Toh, niatnya sudah ada. Namun ternyata, penundaan kecil yang terus diulang bisa menjadi jebakan yang tidak terasa.
Saya lupa bahwa antrean haji terus bertambah panjang dari tahun ke tahun.
Perasaan menyesal mulai muncul ketika melihat beberapa rekan yang mendaftar lebih awal justru sudah lebih dulu berangkat ke Tanah Suci.
Mereka yang segera mengambil keputusan kini sudah bisa berdiri di depan Kakbah, sementara saya masih menyimpan tabungan tanpa nomor porsi keberangkatan.
Dari situ saya belajar satu hal penting: niat yang baik tetap membutuhkan keberanian untuk diwujudkan.
Kepastian dalam Sebuah Lembar Pendaftaran
Kesadaran itu akhirnya benar-benar datang pada awal tahun 2016. Setelah banyak merenung dan berdiskusi dengan istri, kami sepakat untuk tidak lagi menunda.
Pada April 2016, kami akhirnya datang ke kantor Kementerian Agama untuk mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji.
Perasaan lega sulit dijelaskan ketika akhirnya kami menerima nomor porsi keberangkatan yang selama ini hanya menjadi angan-angan. Ada rasa haru, syukur, sekaligus tenang karena langkah besar itu akhirnya benar-benar dilakukan.
Namun, kejutan lain menanti.
Di dalam dokumen resmi tersebut tertera estimasi keberangkatan pada tahun 2031. Artinya, kami harus menunggu sekitar enam belas tahun lagi untuk berangkat ke Tanah Suci.
Saat melihat angka itu, saya langsung teringat pada masa-masa penundaan sebelumnya. Jika saja kami mendaftar lebih cepat, mungkin masa tunggu tidak akan sepanjang ini.