Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Abdul Haris
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Abdul Haris adalah seorang yang berprofesi sebagai Bankir. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Rupiah Digital: Akankah Bisa Merakyat?

Kompas.com - 01/01/2024, 14:41 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Pembahasan seputar Central Bank Digital Currency (CBDC) Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai Rupiah Digital semakin bergerak menjadi kenyataan.

Terlebih Bank Indonesia (BI) telah menunjukkan komitmennya untuk mewujudkan konsep ini dan perkembangan terbaru mengindikasikan kehadiran Rupiah Digital bukan lagi sekadar wacana.

Perjalanan Panjang Menuju Rupiah Digital

Tidak dapat dipungkiri bahwa perjalanan menuju implementasi Rupiah Digital merupakan proses yang memerlukan waktu dan ketelitian.

Bank for International Settlement (BIS) melaporkan bahwa 93 persen bank sentral di dunia sedang mengeksplorasi CBDC. Beberapa negara, seperti China dan India, bahkan telah mengujicobakan mata uang digital mereka.

BI sendiri telah melewati beberapa tahapan krusial dalam mewujudkan Rupiah Digital. Proyek Garuda yang diluncurkan pada tahun 2022 menjadi tonggak awal.

Dalam proyek itu kemudian diwujudkan dalam suatu white paper yang berisi gambaran umum desain Rupiah Digital. Kemudian tahun 2023 BI melakukan konsultasi publik yang dirangkum dalam consultative paper.

Semua tahapan ini dilakukan untuk memastikan desain Rupiah Digital kuat dan dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.

Komitmen Kuat dan Dukungan Hukum

Komitmen BI dalam mengembangkan Rupiah Digital semakin diperkuat dengan dukungan hukum. Perubahan pada Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 (UU Mata Uang) menjadi Undang-Undang No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, memberikan landasan legal bagi eksistensi Rupiah Digital.

Dalam UU No. 4 Tahun 2023 tersebut disebukan bahwa Macam Rupiah terdiri atas Rupiah kertas, Rupiah logam, dan Rupiah digital. Artinya, Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur kepemilikan tambahan macam Rupiah, yakni Rupiah digital.

Mandat BI sebagai lembaga yang berwenang dalam mengelola Rupiah Digital juga telah diatur secara jelas. Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam Pertemuan Tahunan BI 2023, menyampaikan kelanjutan pengembangan Rupiah Digital sebagai bagian dari kebijakan sistem pembayaran 2024.

Dukungan hukum ini memberikan kejelasan dan kepastian hukum, menjadikan Rupiah Digital sebagai alat pembayaran yang sah.

Ketepatan Desain sebagai Kunci Keberhasilan

Salah satu aspek krusial dalam implementasi Rupiah Digital adalah ketepatan desain. Desain yang baik harus memastikan bahwa Rupiah Digital dapat berfungsi efektif sebagai alat pembayaran.

Fungsi dasar uang, seperti sebagai alat tukar, penyimpan nilai, satuan hitung, dan ukuran pembayaran tertunda, harus terwujud dalam desain tersebut.

Kompleksitas dalam menciptakan desain yang memenuhi semua fungsi tersebut memerlukan kehati-hatian dan pemahaman mendalam tentang ekonomi dan keuangan.

BI harus memastikan agar Rupiah Digital dapat berdampingan dengan uang kertas dan logam, serta dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.

CBDC: Melihat Bentuk Rupiah Digital

Desain CBDC terbagi menjadi dua kategori utama: wholesale CBDC dan ritel CBDC. Wholesale CBDC digunakan untuk transaksi antar-bank dan lembaga keuangan, sementara ritel CBDC terbuka untuk publik. Pertanyaan yang muncul adalah seberapa merakyat Rupiah Digital?

Rupiah Digital harus dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. Fitur-fitur khusus, seperti fitur offline, menjadi penting untuk memastikan aksesibilitas di daerah terpencil.

Kombinasi fitur keamanan siber dan perlindungan data pribadi juga menjadi fokus untuk membangun kepercayaan masyarakat.

Merakyatkan Rupiah Digital: Fitur Offline dan Ketersediaan di Seluruh Indonesia

Untuk memastikan inklusi keuangan di seluruh wilayah Indonesia, BI sedang merancang fitur offline untuk Rupiah Digital. Fitur ini menjadi kunci untuk meningkatkan aksesibilitas, terutama di daerah-daerah terpencil dengan sinyal yang tidak stabil.

Keberadaan fitur offline akan mendekatkan Rupiah Digital dengan masyarakat yang tinggal di daerah-daerah sulit sinyal. Proses ini tidak hanya tentang menciptakan teknologi baru tetapi juga mengatasi ketidaksetaraan aksesibilitas di berbagai wilayah Indonesia.

Mendorong Pemanfaatan: Literasi dan Desain yang Responsif

Keberhasilan implementasi Rupiah Digital tidak hanya bergantung pada aspek teknisnya. Literasi keuangan menjadi kunci untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Rupiah Digital dan manfaatnya.

Satoshi Nakamoto, sosok misterius di balik Bitcoin, memberikan inspirasi untuk menghadirkan perubahan dalam ekonomi global.

BI perlu berperan aktif dalam mendorong literasi keuangan di semua lapisan masyarakat. Pemahaman yang baik tentang Rupiah Digital akan membuka pintu bagi penerimaan yang lebih luas.

Desain responsif yang mempertimbangkan kebutuhan dan kenyamanan masyarakat juga menjadi kunci untuk menjadikan Rupiah Digital sebagai pilihan utama dalam bertransaksi.

Satoshi Nakamoto: Pendobrak Tiga Abad

Satoshi Nakamoto, sosok yang menyimpan misteri, telah membawa perubahan besar dalam dunia keuangan. Dengan Bitcoin sebagai karyanya, Nakamoto menjadi pionir dalam menciptakan mata uang digital yang tidak terkendali oleh bank sentral. Fenomena cryptocurrency menjadi pemicu bagi bank-bank sentral untuk merespons dengan menciptakan CBDC.

Perubahan yang Nakamoto bawa telah membuka mata dunia akan potensi baru di dunia keuangan. Cryptocurrency menjadi tonggak sejarah yang mengguncang fondasi uang kertas dan logam yang telah bertahan selama tiga abad.

Mengakhiri Era Tiga Abad: Masa Depan Rupiah Digital

Masa depan Rupiah Digital tidak hanya mengakhiri era tiga abad uang kertas dan logam, tetapi juga membuka babak baru dalam sejarah keuangan Indonesia. Dengan segala tantangan dan langkah-langkah yang telah diambil oleh BI, terlihat bahwa Rupiah Digital bukan hanya sekadar inovasi teknologi, tetapi juga solusi inklusif untuk masa depan.

Seberapa besar dampak Rupiah Digital pada perekonomian Indonesia masih menjadi pertanyaan besar. Namun, dengan tekad dan komitmen yang diperlihatkan oleh BI, masa depan keuangan Indonesia tampaknya semakin mengarah ke arah yang cerah.

Rupiah Digital, bukan hanya sebagai alat pembayaran, tetapi juga sebagai simbol perubahan dan adaptasi terhadap era digital yang terus berkembang.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Akankah Rupiah Digital Merakyat?"

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Apa yang Orangtua Bisa Lakukan saat Anak Banyak Bertanya?

Apa yang Orangtua Bisa Lakukan saat Anak Banyak Bertanya?

Kata Netizen
Tidak Selamanya Sibuk di Kantor Itu Produktif!

Tidak Selamanya Sibuk di Kantor Itu Produktif!

Kata Netizen
Anak Jadi Investasi Hari Tua, Yakin?

Anak Jadi Investasi Hari Tua, Yakin?

Kata Netizen
Mewujudkan Pendidikan Gratis untuk Perguruan Tinggi, Bisa?

Mewujudkan Pendidikan Gratis untuk Perguruan Tinggi, Bisa?

Kata Netizen
Agar Lansia Bisa Produktif Pertimbangkan 5 Cara Berikut!

Agar Lansia Bisa Produktif Pertimbangkan 5 Cara Berikut!

Kata Netizen
Joko Pinurbo, Puisi, dan Ucapan Terima Kasih

Joko Pinurbo, Puisi, dan Ucapan Terima Kasih

Kata Netizen
Konflik Geopolitik dan Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia

Konflik Geopolitik dan Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia

Kata Netizen
Lebih Baik Sewa atau Beli Rumah? Pertimbangkan Dulu Hal Ini

Lebih Baik Sewa atau Beli Rumah? Pertimbangkan Dulu Hal Ini

Kata Netizen
Kelas Menengah Bawah: Terkutuk di Kanan, Tersudutkan di Kiri

Kelas Menengah Bawah: Terkutuk di Kanan, Tersudutkan di Kiri

Kata Netizen
Jumlah Kosakata Sedikit atau Kualitas Berbahasa Kita yang Kurang?

Jumlah Kosakata Sedikit atau Kualitas Berbahasa Kita yang Kurang?

Kata Netizen
Dampak Melemahnya Nilai Tukar Rupiah terhadap Sektor Industri

Dampak Melemahnya Nilai Tukar Rupiah terhadap Sektor Industri

Kata Netizen
Paradoks Panen Raya, Harga Beras Kenapa Masih Tinggi?

Paradoks Panen Raya, Harga Beras Kenapa Masih Tinggi?

Kata Netizen
Pentingnya Pengendalian Peredaran Uang di Indonesia

Pentingnya Pengendalian Peredaran Uang di Indonesia

Kata Netizen
Keutamaan Menyegerakan Puasa Sunah Syawal bagi Umat Muslim

Keutamaan Menyegerakan Puasa Sunah Syawal bagi Umat Muslim

Kata Netizen
Menilik Pengaruh Amicus Curiae Megawati dalam Sengketa Pilpres 2024

Menilik Pengaruh Amicus Curiae Megawati dalam Sengketa Pilpres 2024

Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com