Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Argumen bahwa "Donatur tidak mengatur, yang mengatur itu pembeli." Pernyataan ini menggeser konteks awal menjadi lebih condong ke hubungan transaksional murni.
Dalam dunia bisnis, benar bahwa pembeli memiliki hak untuk menuntut karena mereka telah membayar untuk suatu layanan atau produk. Namun, dalam konteks hubungan sosial, tidak semua interaksi dapat direduksi menjadi transaksi seperti dalam perdagangan.
Sebagai contoh, dalam sebuah hubungan, apakah seorang pria yang membiayai pasangannya otomatis memiliki hak penuh untuk mengatur hidupnya? TENTU TIDAK, karena hubungan manusia tidak sesederhana hubungan jual beli.
Kontribusi dalam hubungan lebih kompleks, melibatkan faktor emosional, psikologis, dan sosial.
Jadi, membandingkan relasi manusia dengan mekanisme pasar adalah penyederhanaan yang kurang tepat.
Realitas Wanita Modern: Menjadi Realistis Bukan Berarti Materialistis
Seiring waktu, semakin banyak wanita yang berpikir lebih realistis dalam hubungan. Bukan karena mereka materialistis, tetapi karena pengalaman membentuk pola pikir mereka.
Banyak wanita yang telah mendukung pasangan dari nol, namun akhirnya ditinggalkan atau dikhianati. Ini bukan sekadar asumsi, tetapi fenomena yang sering terjadi dan bisa dijelaskan melalui teori investasi dalam hubungan (Investment Model Theory) oleh Caryl Rusbult.
Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan tetap bertahan dalam hubungan berdasarkan tingkat kepuasan, investasi yang sudah diberikan, dan alternatif yang tersedia.
Sayangnya, dalam banyak kasus, wanita yang berinvestasi besar dalam hubungan, baik secara emosional maupun finansial, sering kali tidak mendapatkan hasil yang sepadan.
Maka, pertanyaan besar pun muncul:
"Apakah wanita yang tulus itu masih ada?"
Jawabannya, tentu ada. Tapi apakah ada jaminan mereka akan menemukan pria yang sama tulusnya? Itulah yang membuat banyak wanita kini lebih selektif dan tidak lagi mau mempertaruhkan segalanya tanpa kepastian.
Di sisi lain, jika kita mau jujur, banyak pria juga secara naluriah menginginkan pasangan yang cantik, lembut, penurut, dan mampu memberi makan ego mereka. Jadi, mengapa ketika wanita memiliki preferensi tertentu, itu dianggap buruk?
Bukankah semua orang berhak menentukan standar dalam hubungan? Tidak selamanya saat kita berbeda maka salah satu diantara kita adalah salah, hidup tidak sesederhana itu seperti hitam dan putih. Jika berbeda, maka dapat disimpulkan bahwa target marketnya bukanlah kita.
Cinta yang Tulus, Apakah Benar-benar Ada?
Dalam dunia ideal, kita ingin percaya bahwa cinta itu murni dan tanpa syarat. Namun, dalam realitas sosial, cinta selalu memiliki faktor yang mendasarinya. Baik itu karena daya tarik fisik, kesamaan nilai, status sosial, atau faktor lainnya. Tidak ada yang benar-benar mencintai tanpa alasan.