Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Julianda Boang Manalu
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Julianda Boang Manalu adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?

Kompas.com, 18 Januari 2026, 10:53 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Seorang calon bisa saja "menitipkan komitmen" kepada anggota dewan untuk memastikan dukungan dalam pemungutan suara. Mahar ini tidak selalu berupa uang; bisa berbentuk janji posisi strategis, akses proyek, atau dukungan politik untuk kepentingan lain.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Cornelis Lay (2009) dalam Jurnal Prisma, praktik mahar dalam Pilkada DPRD merupakan konsekuensi logis dari sistem politik yang terlalu tertutup dan elitis. Di mana kontrol publik sangat minim dan transparansi nyaris tak ada.

Dalam kondisi seperti itu, demokrasi menjadi semacam transaksi privat antar-elite. Bukan ruang partisipasi rakyat.

Namun yang menarik, di mata sebagian masyarakat waktu itu, praktik semacam ini justru dianggap "wajar". Masyarakat tahu, tapi tak punya ruang untuk menggugat. Ada semacam penerimaan sosial terhadap politik transaksional---bukan karena setuju, tapi karena tak punya pilihan.

Pilkada Langsung dan Luka Demokrasi Baru

Lalu Reformasi datang. Tahun 2005 menjadi tonggak perubahan besar ketika Indonesia untuk pertama kalinya menyelenggarakan Pilkada langsung. Suatu eksperimen demokrasi yang memberi rakyat hak penuh untuk menentukan pemimpinnya sendiri.

Euforia itu luar biasa. Di banyak daerah, pesta rakyat benar-benar terasa. Baliho menjamur, kampanye ramai, dan masyarakat merasa suaranya "berharga".

Demokrasi seperti menemukan kembali napasnya. Namun, seiring waktu, idealisme itu terkikis oleh realitas.

Pilkada langsung ternyata tidak otomatis menghadirkan pemimpin yang bersih atau berkinerja baik. Biaya politik melonjak drastis; politik uang menjadi kebiasaan baru.

Berdasarkan laporan Transparency International Indonesia (2019), rata-rata calon kepala daerah mengeluarkan dana antara 20 hingga 100 miliar rupiah untuk maju dalam Pilkada. Bergantung pada skala wilayah. Sebagian besar dana itu digunakan untuk biaya kampanye, logistik, dan---ironisnya---serangan fajar.

Tak berhenti di situ, banyak kepala daerah yang kemudian terjerat kasus korupsi. Data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK, 2021) mencatat bahwa sejak Pilkada langsung diberlakukan, lebih dari 400 kepala daerah terjerat kasus hukum. Sebagian besar terkait gratifikasi dan penyalahgunaan anggaran politik.

Kondisi ini membuat sebagian kalangan berargumen bahwa Pilkada langsung telah mengorbankan kualitas demi kuantitas demokrasi. Bahkan, muncul suara-suara yang menganggap Pilkada langsung tidak efisien, memecah belah masyarakat, dan terlalu mahal.

Namun, apakah semua itu cukup menjadi alasan untuk mencabut kembali hak rakyat untuk memilih pemimpinnya sendiri?

Antara Efisiensi dan Kedaulatan

Wacana untuk mengembalikan sistem Pilkada lewat DPRD, dalam beberapa tahun terakhir, sering dihidupkan kembali oleh politisi atas nama efisiensi anggaran dan stabilitas politik. Argumen ini sekilas terdengar rasional.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau