Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Fery W
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Fery W adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?

Kompas.com, 8 Februari 2026, 10:20 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Analis UBS juga mengingatkan bahwa tekanan ini berpotensi berlanjut hingga regulator memberikan kepastian kebijakan yang lebih jelas. Tanpa perbaikan struktural, arus dana asing dikhawatirkan terus keluar dari pasar domestik.

Langkah Regulator di Tengah Tekanan Pasar

Merespons kondisi tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama seluruh Self Regulatory Organization (SRO), termasuk Bursa Efek Indonesia, KSEI, dan KPEI, segera mengambil langkah koordinatif.

Pj Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, pada Minggu, 1 Februari 2026, mengumumkan komitmen reformasi yang disebut sebagai Bold and Ambitious Reforms.

Salah satu fokus utama reformasi ini adalah peningkatan integritas pasar modal melalui delapan langkah percepatan. Di antaranya, penyesuaian aturan free float dengan menaikkan batas minimal saham publik menjadi 15 persen, dari sebelumnya 7,5 persen. Kebijakan ini berlaku bagi perusahaan yang akan mencatatkan saham perdana, sementara emiten lama diberikan masa transisi.

OJK juga menekankan pentingnya transparansi Ultimate Beneficial Ownership (UBO) guna memperjelas kepemilikan saham dan meminimalkan potensi penyalahgunaan. Selain itu, agenda demutualisasi bursa didorong untuk memperkuat independensi dan efisiensi tata kelola pasar modal.

Perdebatan Fundamental Ekonomi

Di tengah gejolak pasar saham, perdebatan mengenai kondisi fundamental ekonomi Indonesia kembali mengemuka. Pemerintah menegaskan bahwa indikator makroekonomi masih relatif solid.

Pertumbuhan uang beredar tercatat sekitar 8 persen, inflasi berada di kisaran 2,92 persen, cadangan devisa mencapai US$156,5 miliar, dan pertumbuhan ekonomi diproyeksikan sedikit di atas 5 persen.

Berdasarkan indikator tersebut, pemerintah menilai pelemahan IHSG lebih disebabkan oleh sentimen jangka pendek ketimbang kondisi ekonomi riil.

Dampaknya bagi Masyarakat Umum

Gejolak di pasar saham bukan semata urusan pelaku pasar dan investor besar. Jika arus modal asing terus keluar, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi meningkat.

Kondisi ini menjadi perhatian khusus karena terjadi menjelang Ramadan dan Lebaran, periode ketika kebutuhan konsumsi masyarakat biasanya meningkat.

Pelemahan rupiah dapat mendorong kenaikan harga barang impor, termasuk pangan, sehingga berisiko menekan daya beli. Di sisi lain, rendahnya porsi kepemilikan publik pada sejumlah emiten besar membuat harga saham lebih rentan terhadap volatilitas yang tidak sehat.

Apabila reformasi pasar modal tidak berjalan sesuai harapan dan status Indonesia benar-benar terdegradasi menjadi frontier market, dampaknya terhadap arus investasi dan prospek jangka panjang ekonomi nasional bisa menjadi signifikan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Kata Netizen
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Kata Netizen
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kata Netizen
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Kata Netizen
Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan
Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan
Kata Netizen
Lebih dari Soal Alat Tulis dan Rapuhnya Jaring Pengaman Sosial
Lebih dari Soal Alat Tulis dan Rapuhnya Jaring Pengaman Sosial
Kata Netizen
Ketika Pertanyaan Anak Menjadi Cermin Cara Dewasa Berpikir
Ketika Pertanyaan Anak Menjadi Cermin Cara Dewasa Berpikir
Kata Netizen
Alasan-alasan Kita Jarang Bertamu ke Rumah Tetangga
Alasan-alasan Kita Jarang Bertamu ke Rumah Tetangga
Kata Netizen
Satu Batik, Banyak Fungsi, dan Busana Lokal yang Tak Pernah Keliru
Satu Batik, Banyak Fungsi, dan Busana Lokal yang Tak Pernah Keliru
Kata Netizen
Rawon, Lodeh, dan Kenangan: Kisah Depot Asri Bu Saerun Sejak 1950an
Rawon, Lodeh, dan Kenangan: Kisah Depot Asri Bu Saerun Sejak 1950an
Kata Netizen
Banjir Datang, Aktivitas Tak Mesti Ikut Terhenti
Banjir Datang, Aktivitas Tak Mesti Ikut Terhenti
Kata Netizen
Ketika Rumah, Buku, dan Kopi Menjadi Ruang Literasi
Ketika Rumah, Buku, dan Kopi Menjadi Ruang Literasi
Kata Netizen
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Kata Netizen
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau