
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Selain pendidikan, kesehatan juga memiliki posisi yang sangat strategis.
Masyarakat yang sehat akan lebih produktif, lebih mampu bekerja, belajar, dan berkontribusi bagi pembangunan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun World Bank sama-sama menempatkan kesehatan sebagai salah satu penopang utama produktivitas manusia.
Dalam APBN 2025, pemerintah juga telah menempatkan sektor kesehatan sebagai prioritas, termasuk penguatan layanan primer, pemerataan tenaga kesehatan, serta upaya percepatan penurunan stunting.
Kabar baiknya, prevalensi stunting nasional menunjukkan tren penurunan. Capaian tersebut tentu patut diapresiasi.
Meski demikian, pekerjaan besar masih menanti karena masih banyak anak Indonesia yang membutuhkan dukungan gizi dan layanan kesehatan yang optimal agar dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal.
Belajar dari Pengalaman Negara Lain
Dalam era global saat ini, masyarakat memiliki banyak pilihan. Tidak sedikit pelajar Indonesia yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri, termasuk ke Malaysia.
Demikian pula dalam bidang kesehatan, Malaysia menjadi salah satu tujuan yang cukup banyak dipilih oleh masyarakat Indonesia untuk memperoleh layanan medis.
Fenomena tersebut dapat menjadi bahan refleksi bersama. Ketika kualitas layanan pendidikan dan kesehatan dianggap mampu memberikan rasa percaya dan kenyamanan yang tinggi, masyarakat rela menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkannya.
Hal ini bukan soal persaingan antarnegara, melainkan menjadi pengingat bahwa kualitas layanan yang baik akan selalu menjadi daya tarik.
Pendidikan Memberi Arah, Kesehatan Memberi Tenaga
Bapak Presiden yang saya hormati,
Bagi saya, pendidikan dan kesehatan merupakan dua fondasi yang saling melengkapi. Pendidikan memberi arah dan kemampuan berpikir; kesehatan memberikan tenaga untuk melangkah.
Anak-anak yang sehat akan lebih siap belajar. Sebaliknya, pendidikan yang baik akan membantu mereka tumbuh menjadi generasi yang produktif dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
Oleh karena itu, saya berharap perhatian terhadap kedua sektor ini dapat terus dijaga. Guru, tenaga kesehatan, sekolah, puskesmas, rumah sakit, serta seluruh ekosistem yang mendukung pembangunan manusia kiranya tetap menjadi prioritas dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.