
Dengan kekuatan AS sebagai negara adi daya di hampir setiap sektor, ia yakin "dunia" akan termehek-mehek, dan meminta waktu untuk berdialog dengannya.
Bagi Trump, ekonomi adalah senjata, dan politik adalah tujuannya. Ia mengubah aturan main hubungan internasional, termasuk pandangan soal moralitas Barat dan imperialisme liberal.
Watkins menilai, di balik retorika bombastis Trump tentang tarif, terdapat kalkulasi yang cermat dan tindakan yang terukur. Berbeda dengan Obama dan Biden yang cenderung berhati-hati dan konsisten antara ucapan dan tindakan.
Trump adalah seorang pebisnis yang percaya bahwa perdagangan dapat menciptakan perdamaian, sejalan dengan keyakinan Montesqueieu tentang doux commerce.
Pragmatisme Trump seolah menegaskan bahwa ideologi-ideologi lama, seperti kapitalisme vs sosialisme, liberalisme vs komunisme, bahkan demokrasi liberal/neoliberalisme vs populisme, sudah kehilangan relevansinya.
Dalam konteks ini, konsep "global economy reordering" menjadi relevan. Konsep penataan ulang ekonomi global yang dirancang untuk menguntungkan elite AS, menunjukkan bahwa kebijakan Trump bukanlah sekadar respons reaktif terhadap defisit perdagangan, melainkan bagian dari strategi yang lebih besar dan terencana.
Watkins melihat adanya ambisi untuk mengubah secara fundamental aturan dan dinamika perdagangan internasional yang telah lama mapan.
Ini bukanlah sekadar penyesuaian kecil, melainkan sebuah perombakan besar-besaran yang bertujuan untuk mengembalikan dominasi ekonomi AS di panggung dunia, terutama bagi elite ekonominya.
Sebagai analogi, kita bayangkan "huru hara" ini sebagai sebuah permainan catur yang telah berlangsung selama beberapa dekade, di mana AS telah menetapkan aturan dan menjadi wasitnya.
Namun, kini muncul pemain-pemain baru yang kuat, terutama China, yang mulai menantang dominasi AS.
Merasa terancam, AS di bawah kepemimpinan Trump memutuskan untuk "menggulingkan papan catur" dan menuntut dimulainya kembali permainan dengan aturan yang baru.
Kebijakan tarif Trump adalah salah satu alat utama dalam upaya penataan ulang ini. Dengan mengenakan tarif tinggi pada barang-barang impor, AS berusaha untuk melindungi industri domestiknya, mengurangi defisit perdagangan, dan memaksa negara-negara lain untuk bernegosiasi ulang perjanjian perdagangan yang ada.
Ini adalah bentuk proteksionisme yang agresif, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip perdagangan bebas yang selama ini dijunjung tinggi oleh AS.
Namun, penataan ulang ini bukan hanya tentang ekonomi. Ini juga tentang geopolitik. AS menggunakan kekuatan ekonominya untuk menekan negara-negara lain agar tunduk pada kehendaknya.
Tujuan akhir dari penataan ulang ini adalah untuk menciptakan tatanan ekonomi global yang lebih menguntungkan bagi AS, terutama bagi elite ekonominyaIn
Ini adalah upaya untuk mengembalikan kejayaan industri manufaktur AS, menahan laju kebangkitan China, dan mempertahankan dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia.
Namun, upaya ini bukannya tanpa risiko. Kebijakan tarif Trump telah memicu perang dagang dengan negara-negara lain, yang berpotensi merusak ekonomi global. Penataan ulang ini juga menciptakan ketidakpastian dan ketegangan geopolitik yang dapat mengancam stabilitas dunia.
Cara Trump menegur Eropa, menekan China sambil mendekati Rusia, dan pendekatannya yang transaksional di Timur Tengah, menunjukkan bahwa ia sedang membangun kembali kekuatan AS. Tarif adalah cara Trump memaksa negara lain untuk bernegosiasi.