Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Fery W
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Fery W adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kebijakan Tarif Trump dan Tantangan ke Depan bagi Indonesia

Kompas.com, 15 April 2025, 13:24 WIB

Dengan kekuatan AS sebagai negara adi daya di hampir setiap sektor, ia yakin "dunia" akan termehek-mehek, dan meminta waktu untuk berdialog dengannya.

Kebijakan Tarif Trump dan Penataan Ulang Ekonomi Global

Trump menggunakan tarif sebagai alat untuk mengembalikan hegemoni AS. 

Bagi Trump, ekonomi adalah senjata, dan politik adalah tujuannya. Ia mengubah aturan main hubungan internasional, termasuk pandangan soal moralitas Barat dan imperialisme liberal.

Watkins menilai, di balik retorika bombastis Trump tentang tarif, terdapat kalkulasi yang cermat dan tindakan yang terukur. Berbeda dengan Obama dan Biden yang cenderung berhati-hati dan konsisten antara ucapan dan tindakan. 

Trump adalah seorang pebisnis yang percaya bahwa perdagangan dapat menciptakan perdamaian, sejalan dengan keyakinan Montesqueieu tentang doux commerce.

Pragmatisme Trump seolah menegaskan bahwa ideologi-ideologi lama, seperti kapitalisme vs sosialisme, liberalisme vs komunisme, bahkan demokrasi liberal/neoliberalisme vs populisme, sudah kehilangan relevansinya.

Dalam konteks ini, konsep "global economy reordering" menjadi relevan. Konsep penataan ulang ekonomi global yang dirancang untuk menguntungkan elite AS, menunjukkan bahwa kebijakan Trump bukanlah sekadar respons reaktif terhadap defisit perdagangan, melainkan bagian dari strategi yang lebih besar dan terencana.

Watkins melihat adanya ambisi untuk mengubah secara fundamental aturan dan dinamika perdagangan internasional yang telah lama mapan. 

Ini bukanlah sekadar penyesuaian kecil, melainkan sebuah perombakan besar-besaran yang bertujuan untuk mengembalikan dominasi ekonomi AS di panggung dunia, terutama bagi elite ekonominya.

Sebagai analogi, kita bayangkan "huru hara" ini sebagai sebuah permainan catur yang telah berlangsung selama beberapa dekade, di mana AS telah menetapkan aturan dan menjadi wasitnya. 

Namun, kini muncul pemain-pemain baru yang kuat, terutama China, yang mulai menantang dominasi AS.

Merasa terancam, AS di bawah kepemimpinan Trump memutuskan untuk "menggulingkan papan catur" dan menuntut dimulainya kembali permainan dengan aturan yang baru.

Kebijakan tarif Trump adalah salah satu alat utama dalam upaya penataan ulang ini. Dengan mengenakan tarif tinggi pada barang-barang impor, AS berusaha untuk melindungi industri domestiknya, mengurangi defisit perdagangan, dan memaksa negara-negara lain untuk bernegosiasi ulang perjanjian perdagangan yang ada. 

Ini adalah bentuk proteksionisme yang agresif, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip perdagangan bebas yang selama ini dijunjung tinggi oleh AS.

Namun, penataan ulang ini bukan hanya tentang ekonomi. Ini juga tentang geopolitik. AS menggunakan kekuatan ekonominya untuk menekan negara-negara lain agar tunduk pada kehendaknya. 

Tujuan akhir dari penataan ulang ini adalah untuk menciptakan tatanan ekonomi global yang lebih menguntungkan bagi AS, terutama bagi elite ekonominyaIn

Ini adalah upaya untuk mengembalikan kejayaan industri manufaktur AS, menahan laju kebangkitan China, dan mempertahankan dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia.

Namun, upaya ini bukannya tanpa risiko. Kebijakan tarif Trump telah memicu perang dagang dengan negara-negara lain, yang berpotensi merusak ekonomi global. Penataan ulang ini juga menciptakan ketidakpastian dan ketegangan geopolitik yang dapat mengancam stabilitas dunia.

Cara Trump menegur Eropa, menekan China sambil mendekati Rusia, dan pendekatannya yang transaksional di Timur Tengah, menunjukkan bahwa ia sedang membangun kembali kekuatan AS. Tarif adalah cara Trump memaksa negara lain untuk bernegosiasi.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau