
Dan cara itu terbukti berhasil, kini banyak negara antri untuk bernegosiasi dan menurunkan tarif impor dari AS. Kepentingan ekonomi menjadi prioritas utama, seolah membenarkan tesis Marx bahwa relasi ekonomi (basis) menentukan corak relasi politik (suprastruktur).
Trump, seorang maestro dalam memainkan kartu ekonomi, sampai sejauh ini tampaknya berhasil dalam menjalankan strateginya.
Dari prespektif Susan Watkins ini, mau tidak mau kita harus bersiap menghadapi perubahan konstelasi ekonomi-politik global yang dramatis.
Dalam menyikapi situasi ini, Indonesia harus melihat kebijakan tarif Trump sebagai tantangan sekaligus peluang. Kita perlu menyatukan dimensi ekonomi dan politik dalam satu strategi yang komprehensif.
Pertama, kebijakan yang responsif, fleksibel, dan selaras dengan dinamika global. Jangan membuat kebijakan yang kontraproduktif dan keluar jalur, karena risikonya terlalu besar dan dapat berdampak sistemik.
Kedua, ciptakan kepastian hukum dan tata kelola yang baik untuk menarik investasi. Indonesia perlu meyakinkan investor bahwa berinvestasi di sini menguntungkan, aman, dan nyaman. Ini membutuhkan bukti nyata, mulai dari kualitas regulasi, implementasi yang konsisten, hingga pelayanan yang proaktif.
Ketiga, segera selesaikan hambatan bisnis yang dikeluhkan investor dan pelaku usaha. Ini membutuhkan kemauan politik yang kuat, karena akan berhadapan dengan kepentingan para pemburu rente.
Rezim perizinan/kuota impor yang rumit, pembatasan dengan dalih keberpihakan domestik seperti TKDN, SNI, sertifikasi, dan birokrasi yang kerap bekerja seperti hantu, harus segera dibenahi.
Kebijakan tarif resiprokal Donald Trump, mungkin saja hanya sebagai langkah pragmatis untuk mengatasi defisit perdagangan AS, tapi bukan tidak mungkin merupakan bagian dari strategi besar untuk menata ulang arsitektur ekonomi global.
Di balik retorika bombastis dan logika sederhana yang diusungnya, tersembunyi ambisi hegemoni AS yang didukung oleh elite ekonomi, yang siap mengguncang tatanan dunia demi keuntungan mereka sendiri.
Namun, di tengah badai ketidakpastian ini, Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton pasif. Kita harus mampu membaca gelombang perubahan ini dengan cermat, menyatukan kekuatan ekonomi dan politik dalam satu strategi komprehensif.
Kebijakan yang responsif, kepastian hukum yang kokoh, dan iklim investasi yang kondusif harus menjadi fondasi utama. Kita harus mampu memangkas hambatan birokrasi, menepis praktik rente, dan membangun citra Indonesia sebagai mitra dagang yang kredibel dan menguntungkan.
Dalam setiap tantangan selalu berdampingan dengan peluang. Di tengah arus perubahan yang deras, Indonesia harus mampu berlayar dengan tangkas, memanfaatkan setiap celah untuk memperkuat ekonomi nasional dan memperkokoh posisinya di panggung global.
Sudah saatnya bagi Indonesia untuk membuktikan ketangguhannya, bukan hanya sebagai pemain, tetapi juga menjadi bagian dari penentu arah dalam arsitektur ekonomi dunia yang baru.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ada Apa di Balik Kebijakan Tarif Trump dan Tantangannya bagi Indonesia"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT